Kamis, 11 Desember 2014

Contoh Makalah Ciung Wanara (Karangkamulyan)

Contoh Makalah Ciung Wanara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Penelusuran sejarah Ciamis identik dengan mengungkapkan kembali sejarah Galuh. Pada masa dahulu, daerah ini dikenal dengan nama galuh baik pada masa Kerajaan maupun Kebupatian (Kabupaten). Nama Ciamis sebagai nama Kabupaten baru muncul pada awal abad ke-20 Masehi.
Kehidupan masyarakat Ciamis yang menghargai sejarahnya dibuktikan dengan masih berkembangnya cerita rakyat seperti halnya tokoh Ciung Wanara yang dijadikan tokon besar dalam sejarah Ciamis hingga saat ini.
Sosok Ciung Wanara sendiri adalah salah satu legenda yang sangat penting bagi masyarakat Ciamis diamana sosok Ciung Wanara dalam perkembangannya adalah salah satu tokoh dari kerajaan Galuh yang tidak lain adalah kerajaan yang terletak di Ciamis. Namun sosok Ciung Wanara sendiri masih menyimpan banyak misteri dibalik cerita yang berkembang dimasyarakat. Misteri dibalik keberadaan Ciung Wanara sangatlah menarik untuk bahan penelitian hingga menemukan kebenaran sejarah Ciung Wanara yang melegenda.

1.2    Rumusan Masalah
Adapaun terdapat beberapa permasalahan yang dapat kami rumuskan berdasarkan latar belakang di atas, yaitu :
1.    Bagaimana melihat Ciung Wanara dari sisi sejarah ?
2.    Bagaimana melihat Ciung Wanara dari sisi Legenda ?
3.    Bagaimana keterkaitan situs Karangkamulyan dengan legenda Ciung Wanara ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Ciung Wanara sebagai sejarah dan legenda
Banyak versi mengenai sejarah Ciung Wanara, maka dari itu kelompok kami membagi bagian Ciung wanara menjadi dua yaitu, Ciung Wanara sebagai sejarah (Kerajaan Galuh pada Masa Ciung Wanara) dan Ciung Wanara sebagai legenda atau cerita rakyat Ciamis. Agar terdapat kejelasan dari sejarah Ciung Wanara ini.
2.1.1    Ciung Wanara sebagai sejarah
Sang Manarah yang disebut juga Ciung Wanara atau Prabu Suratama, atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuwana memerintah Galuh dari tahun 739-783 Masehi. Dia adalah putra Prabu Adimulya Permanadikusuma yang terbunuh oleh utusan Tamperan. Ibunya bernama Naganingrum cucu Balangantrang yang menjadi istri kedua Tamperan, setelah suaminya meninggal dunia.
Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan yang bernama Kencana Wangi. Dari perkawinan ini dikaruniai anak bernama Purbasari yang kelak menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung.
Dalam usaha merebut Kerajaan Galuh dari tangan Tamperan, Ciung Wanara dibimbing oleh Balangantrang yang telah berpengalaman dalam urusan kenegaraan. Sejak kecil Ciung Wanara atau Sang Manarah telah ditempa oleh berbagai ilmu pengetahuan dan siasat perang, karena Balangantrang bermaksud menjadikan Ciung Wanara sebagai Raja di Kerajaan Galuh, sebagai penerus ayahnya, yang pada waktu itu Kerajaan Galuh diduduki oleh Tamperan.
Akhirnya Ciung Wanara mengetahui rahasia negara setelah diberi tahu oleh Balangantrang. Dia dipersiapkan dengan matang sekali untuk merebut kembali Kerajaan Galuh.
Ketika itu pihak Kerajaan Galuh tidak mengetahui bahaya yang akan mengancamnya, mereka tidak mengetahui pula dimana Ciung Wanara berada dan persiapan apa yang sedang di lakukan oleh Balangantrang. Pertahanan negara tidak terpusat pada peperangan, karena di Kerajaan sedang dimabuk dengan berbagai permainan yang mengasikan, seperti permainan sambung ayam yang sedang menjadi kegemaran di negara.
 Dengan demikian Kerajaan Galuh mudah dilumpuhkan ketika Ciung Wanara bersama pasukannya melakukan penyerangan.
Ciung Wanara memerintah selama kurang lebih 44 tahun, dengan wilayah pemerintahannya antara daerah Banyumas sampai ke Citarum, setelah cukup lama memerintah, Ciung Wanara mengundurkan diri dari pemerintahan, pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh menantunya sendiri yaitu Sang Manistri atau Lutung Kasarung suami dari Putri Purbasari.
Pada tahun 783, Manarah melakukan Manurajasuniya yakni mengakhiri hidupnya dengan bertapa.

2.1.2    Ciung Wanara sebagai legenda
Dalam sejarah Parahyangan, di daerah yang dikenal sebagai kawasan Tatar Galuh terdapat dua situs sejarah yang berhubungan erat dengan sejarah Galuh, yaitu Situs Astana Gede di daerah Kawali dan Situs Karang Kamulyan, keduanya terletak dalam wilayah Kabupaten Ciamis.
Kedua situs itu memang dipimpin oleh dua orang raja yang terkenal, yaitu Raja Wastukancana di Kawali dan Ciung Wanara di Karangkamulyan. Cerita Ciung Wanara ini berawal dari sebuah kerajaan bernama Medangkamulyan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Adimulya atau Ratu Permana, atau lebih dikenal dengan nama Permanadikusumah yang beristrikan Naganingrum dan Dewi Pangrenyep.
Namun karena Raja Permanadikusuma punya hobi bertapa, akhirnya pimpinan pemerintahan beserta istri dan keluarganya dititipkan sama Patih Bodan. Lalu Raja Permanadikusumah pun pergi ke Gunung Padang di kawasan Cikoneng sekarang, dan setelah bertahun-tahun bertapa Raja Permanadikusumah mendapat gelar Pandita Ajar Sukaresi yang terkenal sakti mandraguna.
Singkat cerita kehebatan Pandita Ajar Sukaresi sampai juga ke telinga Patih Bondan yang menjadi Raja di Medangkamulyan, lalu dia memanggil petapa itu untuk diuji kemampuannya dengan maksud untuk dipermalukan, yaitu dengan cara Putri Naganingrum dijejali Bokor atau Kuali supaya kelihatan hamil. Di hadapan Ajar Sukaraja, Patih Bondan berkata, coba tebak laki atau perempuan yang sedang dikandung oleh Naganingrum, lalu Pandita Ajar Sukaresi menjawab bahwa yang akan dilahirkan oleh Naganingrum adalah seorang bocah laki-laki. Patih Bondan pun tertawa terbahak-bahak dan mengatakan bahwa itu cuma akal-akalan saja. Tapi Andita Ajar Sukaresi meminta buktinya. Kemudian bokor tersebut diambil dan ternyata, dia benar-benar hamil. Saking jengkelnya kuali tersebut ditendang dan jatuh di satu tempat yang kemudian bernama Kawali tempat di mana situs Astana Gede berada.
Anak tersebut kemudian lahir dan benar-benar seorang bocah laki-laki. Berhubung Naganingrum adalah keturunan Galuh sama seperti Pandita Ajar Sukaresi maka otomatis Patih Bondan ketakutan kekuasaannya akan jatuh ke keturunan Galuh. Lalu timbullah perselingkuhan antara Dewi Pangrenyep dengan Patih Bondan yang keturunan Sunda, dari hasil perselingkuhan tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Hariangbanga.
Sedangkan tentang putra dari Naganingrum sendiri, Patih Bondan selalu berusaha membunuhnya. Namun karena orang suruhannya tidak tega melakukannya, akhirnya si bayi tersebut dihanyutkan di sungai dengan dibekali sebutir telur ayam, bayi bersama telur ayam tersebut kemudian diketemukan oleh seorang penangkap ikan yang bernama Aki Balangantrang, bayi tersebut kemudian dirawatnya dengan baik-baik, sedangkan telur ayamnya dititipkan pada Nagawiru.
Pada suatu hari, si bayi yang tumbuh semakin besar, diajak Aki Balangantrang jalan-jalan ke hutan, ketika berjalan di dalam hutan si anak tersebut melihat seekor burung, si anak tertarik dan bertanya tentang burung yang cukup gesit serta berkicau cukup tinggi/melengking tinggi. Aki Balangantrang menjelaskan tentang burung dan nama burung itu, burung Ciung.
Semakin lama semakin dalam masuk hutan, kemudian bertemu dengan seekor harimau, mereka kaget dan bersembunyi. Setelah itu berjalan lagi melihat seekor badak bercula 3 sedang makan dan saat bersamaan kedatangan harimau yang ingin mengganggu, terjadilah pertempuran seru dan akhirnya harimau kalah meskipun badak juga terluka. Si anak diam saja dan tidak memberikan reaksi kepada Aki Balangtrang. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan, dan saat di jalan sepi mereka dihadang oleh seekor beruang raksasa, aki menyuruh si anak untuk bersembunyi, maka berhadapanlah Aki dengan beruang. Setelah bertempur cukup lama, Aki dapat mengalahkan beruang itu.
Mereka melanjutkan perjalanannya lagi beberapa saat mereka melihat seekor monyet melompat dan berayun-ayun di antara pohon-pohon besar saat monyet itu sudah tidak kelihatan, mereka akan melanjutkan perjalanan ternyata di hadapannya dihadang oleh seekor ular cobra raksasa, yang ingin memangsa mereka berdua, maka berkelahilah si Aki dengan ular itu. Saat Aki Balangtrang mulai terdesak, muncullah seekor monyet yang mencoba membantu Aki Balangtrang, akhirnya monyet tersebut bertempur dengan ular cobra raksasa, dengan gerakan lincah dan loncat ke sana ke mari serta menggunakan akalnya untuk mengalahkan ular raksasa itu.
Si anak terkagum-kagum dengan gerakan monyet yang dapat menyudutkan ular tersebut dan akhirnya dapat mengalahkannya. Kemudian anak itu bertanya lagi dan diberitahu bahwa itu binatang Wanara. Timbul ide pada Aki Balangantrang untuk menamai anak itu dengan nama Ciung Wanara. Sedangkan telur ayamnya dierami oleh Nagawiru yang bersemayam dikaki gunung Padang. Setelah menetas, ayam tersebut menjadi seekor ayam yang benar-benar kuat dan perkasa.
Setelah berumur 6 bulan ayam itu oleh Nagawiru diantarkan ke rumah Aki Balangtrang dan kelak menjadi sahabat Ciung Wanara. Dalam pengembaraannya bersama ayamnya, Ciung menghadapi rintangan-rintangan baik dari para penyabung ayam yang tidak rela karena kalah maupun dengan para penyabung ayam yang ingin mengambil ayamnya dengan mengerahkan binatang-binatang raksasa untuk mencegah di jalan. Semuanya dapat dilalui sehingga nama Ciung Wanara semakin tenar seantero tanah parahyangan.
Setelah Patih Bondan, yang saat itu telah menjadi raja, mendengar ada seseorang memiliki ayam adu kuat, perkasa dan tak terkalahkan, maka sang raja pun mengadakan sayembara sabung ayam, yang isinya kira-kira bila mana ada yang bisa mengalahkan ayam kerajaan, maka si pemenang bakal mendapatkan setengah wilayah kekuasaan Medangkamulyan. Ayam sang raja ini merupakan ayam aduan yang tidak terkalahkan karena memiliki sifat-sifat yang kejam campuran sifat rajawali yang gesit dan lincah serta sifat harimau yang kejam dan sadis, dan selalu seperti melakukan gerakan-gerakan 2 binatang itu.
Singkat cerita Ciung Wanara pun ikut sayembara sabung ayam yang diselenggarakan Raja Bondan dan di dalam kalang. Setelah melawan banyak ayam yang ikut sayembara tersebut, maka ayam Ciung Wanara berhak maju untuk melawan ayam sang raja. Maka Ciung Wanarapun mendapatkan wilayah yang disayembarakan dan sekaligus menjadi raja-nya. Tapi karena Ciung Wanara telah mengetahui dari Aki Balangantrang bahwa dia adalah putra Raja Galuh, akhirnya Ciung Wanara berusaha merebut sisa wilayah yang masih dikuasai oleh Raja Bondan.
Siasat ini merupakan siasat licik sang raja, agar ayam aduan tetap segar dan sehat sehingga saat melawan ayam yang berhasil mengalahkan para peserta sampai di akhir babak melawan ayam raja menjadi lemah dan tidak kuat lagi. Begitu juga ayamnya Ciung Wanara, setelah beberapa lama bertanding dan hasil seri dan akhirnya berhasil mengalahkan ayam Raja Bondan, Ciung Wanara berhasil keluar sebagai pemenang sayembara dan mendapat hadiah wilayah yang disayembarakan dan akhirnya mengangkat dirinya sebagai raja. Tapi karena Ciung Wanara telah mengetahui dari Aki Balangantrang bahwa dia adalah putra Raja Galuh, akhirnya Ciung Wanara berusaha merebut sisa wilayah yang masih dikuasai oleh Raja Bondan. Akhir cerita dia berhasil mengalahkan Raja Bondan, sedangkan Hariangbanga, anaknya, berhasil meloloskan diri akan tetapi terus dikejarnya. Setelah bertempur sengit dengan Hariangbanga, akhirnya diberi tahulah oleh Aki Balangantrang bahwa Hariangbanga adalah saudaranya. Maka peperanganpun berhenti dan diputuskan bahwa wilayah kerajaan dibagi dua, sebagian untuk Hariangbanga dan sebagian lagi untuk Ciung Wanara. Kedua kerajaan tersebut dibatasi oleh sungai Cimapali.

2.2    Keterhubungan Situs Karangkamulyan dan Legenda Ciung Wanara
Jika melihat dari legenda di atas, peninggalan Kerajaan Galuh pertama yaitu Situs Karangkamulyan. Situs Karangkamulyan terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya 17 Km ke arah timur dari ibukota Kabupaten Ciamis.
Terletak antara pertemuan dua sungai yakni sungai Citanduy dan Cimuntur, dengan batas sebelah Utara adalah jalan raya Ciami – Banjar, sebelah Selatan Sungai Citanduy, sebelah Barat merupakan sebuah pari yang lebarnya sekitar 7 meter membentuk Tanggul Kuno, dan batas sebelah Timur adalah sungai Cimuntur.
Situs ini pun dilindungi oleh UU BCB no.5 tahun 1992, salah satu bunyi UU BCB No.5 tahun 1992 pasal 26 adalah ‘’barang siapa yang dengan sengaja merusak benda Cagar Budaya dan situs serta lingkungannya atau membawa, memindahkan benda Cagar Budaya tanpa izin pemerintah akan dipidana penjara selama 10 tahun dan denda seratus juta. Itulah bentuk perhatian pemerintah kepada situs Krangkamulyan ini.
 Di samping dilindungin oleh undang-undang, pemerintah mengangkat pula juru pelihara Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang bertugas menjaga dan memelihara situs-situs dimaksud agar kondisinya dapat dipertahankan. Peninggalan purbakala ini letaknya terpencar-pencar, serta memiliki sebutan khusus, yaitu sebuatan sehari-hari yang dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi di dalam kisah Ciung Wanara. Peninggalan-peninggalan yang terdapat di situs Karangkamulyan ada tujuh buah situs, yaitu Batu Pangcalikan, Sanghyang Bedil, Penyabungan Ayam, Lambang Peribadatan, Panyandaan, Cikahuripan, Makam Dipati Panaekan, dan Sipatahunan. Akan tetapi yang berhubungan dengan Ciung Wanara adalah Penyabungan Ayam, Panyandaan, dan Sipatahunan.
1.    Penyabungan Ayam

Tempat ini terletak di sebelah Selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Pada lokasi penyambungan ayam ini tidak terdapat batu atau peninggalan lain yang berasal dari tradisimegalitik ataupun klasik, akan tetapi hanya merupakan sebuah ruangan berbentuk bundar yang dikelilingi pohon-pohon yang tinggi. Namun masyarakat menganggap bahwa tempat itu merupakan tempat penyambungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memilih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

2.    Panyandaan

Panyandaan terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu yang tersusun yang merupakan struktur tembok. Menurut cerita rakyat, tempat yang disebut sebagai Panyandaan yang merupakan tempat dilahirkannya Ciung Wanara. Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama 40 hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

3.    Sipatahunan

     Menurut cerita masyarakat, di Sipatahunan inilah Ciung Wanara dihanyutkan.
Ketiga tempat di atas manjadi bukti  serta pemikiran masyarakat sehingga memunculkan sebuah cerita rakyat Ciung Wanara. Meskipun keterhubungan tersebut barulah sebatas hipotesis, namun pada dasarnya hipotesis merupakan instumen kerja teori, berupa pernyataan atau jawaban sementara terhadap suatu hal (Wardiyanta, 2006 : 12)
Pada akhirnya semua sejarah bergantung pada tujuan sosialnya. Itulah sebabnya sejarah di masa lampau disampaikan lewat tradisi lisan atau kronik tertulis. Hal ini memebrikan sarana untuk rekonstruksi masa lalu yang lebikrealistik dan berimbang


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Sejarah Ciamis ini memang dimulai dari Kerajaan Kendan yang merupakan bawahan dari Kerajaan Tarumanegara yang kemudian memisahkan diri pada saat Kendan berubah nama menjadi Kerajaan Galuh dibawah kekuasaan Wretikendayum.
Adapun sebagai tokoh yang bernama Ciung Wanara yang terkenal, baik dalam sejarah maupun legenda. Ciung Wanara sama-sama diceritakan sebagai salah satu raja dari Kerajaan Galuh.
Adapun keterhubungan antara situs Karangmulyan dengan keberadaan Ciung Wanara, seperti situs Sabung Ayam, Panyandaan, dan Sipatahunan yang cukup meberi gambaran tentang kisah Ciung Wanara dalam cerita legenda.

3.2    Saran
Dengan melihat ini kita harus lebih mengkeritisi legenda yang berkembang di masyarakat dengan bukti-bukti yang ditemukan untuk mengetahui kebenaran peristiwa atau tokoh yang diceritakan. Selain itu, kita harus dapat menjaga situs-situs peninggalan yang ada, karena itulah salah satu bukti adanya keberadaan masa lalu untuk masa depan.

1 Responses to “Contoh Makalah Ciung Wanara (Karangkamulyan)”

Poskan Komentar

Sponsored by Jobs