Senin, 24 Februari 2014

Sejarah dan Perkembangan Seni Lukis Indonesia

KARYA SENI RUPA MURNI INDONESIA

Sejarah dan Perkembangan Seni Lukis Indonesia
Seni Luki

A.    Sejarah dan Perkembangan Seni Lukis Indonesia
Secara garis besar perkembangan seni rupa Indonesia meliputi seni prasejarah, sejarah seni Indonesia-Hindu, seni Indonesia-Islam, dan seni Indonesia Modern.
1.    Seni Lukis Prasejarah Indonesia
Pada zaman prasejarah, seni lukis memegang peranan penting karena setiap lukisan mempunyai makna dan maksudtertentu. Pada zaman tersebut lukisan dibuat pada dinding-dinding gua dan karang. Salah satu teknik yang digunakan oleh orang-orang gua untuk melukis di dinding dinding gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu disemprot dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna. Teknik menyemprot ini dikenal dengan narna aerograph. Media lain yang digunakan untuk membuat lukisan adalah tanah liat. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami seperti mineral dan lemak binatang. Pada umumnya tujuan clan tema yang dipilih untuk membuat lukisan-lukisan tersebut adalah magis.
2.    Seni Lukis Hindu Klasik Indonesia
Setelah zaman prasejarah berakhir, bangsa Indonesia telah memiliki berbagai macam keahlian seperti pembuatan batu besar berbentuk piramida berundak, seni tuang logam, pertanian dan peralatannya, seni pahat, serta pembuatan batik yang dikembangkan dengan penambahan unsu-unsur pada waktu wasuknya pengaruh Hindu. Zaman ini merupakan babak baru dalam periodisasi kebudayaan di Indonesia dan dapat dikatakan sebagai zaman sejarah karena pada zaman ini telah ditemukan peninggalan berupa tulisan. Hal ini terjadi karena adanya kontak kebudayaan dengan India sekitar abad ke-5 M.
3.    Seni Lukis Islam Indonesia
Seperti pada zaman Hindu, kesenian Islam di Indonesia berpusat di istana. Seorang seniman tugasnya tidak semata-mata menciptakan karya seni, akan tetapi ia juga seorang ahli dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, disamping mengenal cabang seni lainnya.

4.    Seni Lukis Indonesia baru
a.    Latar Belakang
Latar belakang lahirnya seni lukis Indonesia baru adalah sebagai berikut :
1)    Warisan budaya
Warisan budaya merupakan bagian dalam pembentukan watak seorang manusia yang berdasar pada hubungan manusia itu dengan keadaan di sekelilingnya.
2)    Kekuatan sejarah
Kekuatan sejarah yang berupa kejadian-kejadian dan gejala-gejala sosial yang sedang berlangsung di sekeliling seniman.
3)    Pengaruh Barat
Pengaruh barat adalah kenyataan yang juga merupakan kekuatan sejarah.

b.    Perkembangan Seni Lukis Indonesia Baru
Seni rupa modern di Eropa diproklamirkan sejak munculnya aliran post impresionisine (awal abad ke-18).
Pada zaman seni rupa Indonesia baru ini, terjadi beberapa perkembangan seperti berikut :
1)    Masa Raden Saleh (Perintisan)
Sebagian ahli memandang Raden Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) sebagai perintis seni lukis modern Indonesia.
2)    Masa Indonesia Jelita (Mooi Indie)
Seni rupa Indonesia sejak meninggalnya Raden Saleh sempat mengalami masa kekosongan. Kehidupan penjajahan dan feodalisme yang sudah mengakar tidak memungkinkan Raden Saleh melakukan pengkaderan seni lukis.
3)    Masa Cita Nasional
Gaya melukis Mooi Indie tidak terlepas dari kacamata orang barat memandang bahwa alam Indonesia adalah syurga.

4)    Masa Pendudukan Jepang
Masa imperialisme di Indonesia belum berakhir meskipun Belanda harus angkat kaki dari bumi Indonesia. Hal itu karena Indonesia mengalami penjajahan Jepang (1942-1945). Pada zaman pendudukan Jepang, tepatnya pada 1942, PERSAGI dipaksa bubar.
5)    Masa Sesudah Kemerdekaan
Keadaan negara setelah proklamasi kernerdekaan 1945 tidak menghentikan aktivitas kesenian. Saat itu seni lukis dijadikan media, untuk berjuang. Perkembangan seni lukis di Indonesia menunjukkan kemajuan yang pesat karena seni lukis telah menyatu dengan semangat perjuangan kemerdeicaan bangsa.
6)    Masa Pendidikan Formal
Pada 1949, R. J. Katamsi dengan beberapa seniman anggota SIM, Pelukis Rakjat, POETRA, dan Budayan Taman Siswa merintis Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini bertcbah menjadi ]St. Tujuan didirikannya akademi ini ada.lah untuk mencetak calon-calon senaiman. I'ara tokoh ASRI antara lain S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Djajengasmoro, Kusnadi, dan Sindusiswono.
7)    Masa Seni Lukis Baru di Indonesia
Sejalan dengan perkembangan teknologi dan masyarakat yang mulai maju, sekitar 1974 lahirlah kelompok seniman muda di berbagai daerah. Para seniman muda yang tergabung dalarn gerakan ini antara lain Jim Supangkat, S. Prinka, Satyagraha, F. X. Harsono, Dede Eri Supria, dan Munni Ardi.

B.    Sikap Apresiasi Seni Rupa Murni Nusantara
1.    Proses Berkarya Seni Rupa
Seni rupa sebagai aktivitas manusia dalam berolah rasa muncul bersarnaan dengan adanya kehidupan di muka bumi. Hasil karya seni rupa sangat beragam, mulai dari bentuk sederhana sebagai awal lahirnya sebuah kebudayaan di raman prasejarah hingga mencapai bentuk yang kompleks seperti di zaman modern ini.
2.    Mengapresiasi Karya Seni Rupa Murni
Tujuan utama penciptaan karya seni rupa mumi adalah untuk mengungkapkan ekspresi jiwa, gagasan, atau ide untuk kepentingan estetis tanpa dikaitkan dengan kepentingan praktis.
3.    Tahapan Mengapresiasi Karya Seni Rupa Murni
Adapun tahapan dalam mengapresiasi karya seni rupa murni seperti seni lukis, seni patung, clan seni grafis adalah sebagai berikut :
a.    Tahap Awal
Tahap awal merupakan tahap ketika seorang pengamat melihat sebuah karya, baik karya yang dipamerkan maupun melihat karya tertentu secara sekilas. Tahap ini disebut juga dengan tahap perkenalan.
b.    Tahap Penghayatan
Tahap penghayatan merupakan tahap di mana seorang pengamat berupaya untuk mengamati lebih jauh lagi dan berusaha untuk memahami serta menghayati sebuah karya.
c.    Tahap Penilaian
Tahapan penilaian merupakan tahap pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu tentang bernilai atau berharganya suatu karya seni




MEMBUAT CETAK SARING
DAN MELAKSANAKAN PAMERAN SEKOLAH
A.    Seni Grafis
Seni grafis merupakan bentuk ungkapan visual kedalam bidang dua dimensi sebagai salah satu cara untuk menciptakan karya seni rupa yang memanfaatkan media cetak mencetak. Seni grafis dapat dibedakan menjadi empat, yaitu cetak saring (silkscreen) atau cetak sablon, seni grafis cetak datar (lithography), seni grafis cetak tinggi (woodcut), dan seni grafis cetak dalam (intaglio).
1.    Cetak Saring (Silkscreen)
Cetak saring merupakan salah satu teknik mencetak yang umum dikenal orang dengan nama sablon, Teknik yang digunakan adalah mencetak dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari kasa (screen) yang terpasang pada rangka.   
Contoh tipe screen yang digunakan untuk menyablon :
•    T 55, yaitu tipe screen yang sifatnya banyak meloloskan tinta karena pori-porinya besar. Tipe ini digunakan untuk mencetak gambar pada handuk atau karung gula.
•    T 90, yaitu tipe screen dengan pori-pori yang agak rapat. Tipe ini banyak digunakan untuk mencetak kaos dan spanduk.
•    T 120, yaitu tipe screen dengan pori-pori yang lebih rapat. Tipe ini biasa digunakan untuk mencetak pada permukaan kayu lapis, kertas karton, kulit.
•    T 150, yaitu tipe screen yang banyak digunakan untuk mencetak permukaan bahan serat (fiber), formika, dan imitasi.

2.    Cetak tinggi atau cetak timbul
Cetak tinggi atau cetak timbul adalah cara membuat acuan cetak dengan membentuk gambar pada permukaan media cetak secara timbul.Contoll yang paling sederhana dari teknik ini adalah stempel atau cap
Teknik cetak tinggi yang paling popular yaitu seni gratis cukilan kayu (woodcut). Teknik ini telah dikenal oleh orang Koptia di Mesir pada abad ke-14 M. Orang. Eropa menggunakan teknik ini untuk membuat hiasan pada kain tenun. Seni ini juga dipakai sebagai media cetak huruf dan buku. Salah seorang pelopor yang berjasa dalam penemuan seni mencetak adalah Johanes Gutenberg (1400-1468) dari Jerman.
Ada pula seniman (grafikus) yang    menggunakan media teknik cetak tinggi untuk membuat karyanya. Mereka adalah Albrecht Durer, L. Grana,.h, H. Holbein, HB. Grien (Jerman). Adapun grafikus Indonesia yang menggunakan cetak tinggi dalam berkarya antara lain Kaboel Suadi
3.    Cetak datar (Lithography)
(Lithography) merupakan seni grafis cetak datar dengan menggunakan acuan cetak dari lempengan batu kapur. Media batu kapur digunakan karena memiliki sifat dapat menghisap tinta cair dan lemak. Seniman yang menggunakan teknik ini antara lain George Bellows, Pierre Bonnard.
4.    Cetak dalam
Teknik cetak dalam adalah salah satu teknik seni gratis dengan menggunakan acuan cetak dari logam tembaga. Teknik pembuatan cetak dalam yaitu dengan ditoreh atau digores langsung. Seni gratis cetak dalam terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu engraving, etsa, mezzotint, dan frypoin.
a)    Engraving
Engraving dikembangkan di_Jerman sekitar 1430 dari ukiran halus yang digunakan oleh para tukang emas untuk mendekorasi karya mereka.
Burin digunakan untuk mengukir logam. Seluruh, permukaan plat logam diberi tinta. Kemudian, tinta dibersihkan dari permukaan sehingga yang tertinggal hanya tinta yang berada di garis yang diukir. Setelah itu, plat logam ditaruh pada alat press bertekanan tinggi bersama dengan lembaran kertas seringkali dibasahi untuk melunakkan. Selanjutnya kertas mengambil tinta dari garis engraving (bagian yang diukir) dan rnenghasilkan karya cetak.
b)    Etsa (Etching)
(Etsa merupakan teknik cetak yang menggunakan media cetak berupa lempengan tembaga. Untuk pembuatan klise acuan cetak dilakukan dengan menggunakan larutan asam nitrat (HNO3) yang bersifat korosit terhadap tembaga.
Jika bandingkan dengan engraving etsa memiliki kelebihan. Yaitu tidak seperti engraving yang memerlukan keterampilan khusus dalam pertukangan logam. Hasil cetakan etsa umumnya bersifat linier dan seringkali memiliki detail dan kontur halus. Garis bervariasi dari halus sampai kasar. Awal teknik adalah selembar plat logam (biasanya tembaga, seng atau baja) ditutup dengan lapisan semacam lilin.
c)    Mezzotint
Mezzotint merupakan teknik cetak dengan plat logam yang terlebih dahulu dibuat kasar permukaannya secara merata.
Gambar juga dapat dibuat dengan mengasarkan bagian tertentu saja, bekerja dari warna terang ke gelap. Teknik ini adalah rocker. Metode mezzotint ditemukan oleh Ludwig von Siegen (1609-1680) abad ke-18 M untuk memproduksi foto dan lukisan.
d)    Drypoint
Drypoint merupakan variasi dari engraving. Teknik ini disebut dengan goresan langsung menggunakan alat runcing. Goresan drypoint akan meninggalkan kesan kasar pada tepi garis. Ciri kualitas garis yang lunak dan kadang-kadang berkesan kabur. Drypoint hanya berguna untuk jumlah edisi yang sangat kecil. Alat press dengan cepat merusak kesan kabur yang telah dibuat. Untuk mengatasi ini, penggunaan electro-plating (pelapisan secara elektrik) dengan bahan logam lain.
Teknik ini ditemukan oleh seorang seniman Jerman selatan pada abak ke 15 M yang memiliki julukan Housebook mater.



B.    Berkarya Seni Grafis
1.    Alat dan Bahan
Berikut ini alat dan bahan yang digunakan untuk membuat karya cetak saring (sablon)
a.    Screen yang dapat dibeli di took sablon.
b.    Meja cetak yang dilengkapi dengan lampu neon.
c.    Rakel untuk menyapu dan menapis tinta cetak pada screen.
d.    Alat-alat menggambar.
e.    Alat pengering seperti kipas angin atau hairdyer untuk membantu proses pengeringan.
f.    Plastik, mika film, atau kertas kalkir    untuk membuat klise positif.
g.    Tinta cetak sesuai dengan yang dibutuhkan, misalnya tinta dengan basis air digunakan untuk menyablon kaos.
h.    Sendok plastik atau sendok adonan kue.
i.    Kain lap untuk membersihkan screen.
j.    Air atau minyak pengencer/pencuci screen yang sesuai dengan tinta.
k.    Baju kaos polos untuk media sablon.
l.    Obat afdruk untuk membuat klise negatif (cetakan).
m.    Catok untuk menyablon.
n.    Anleg atau patokan pembatas bahan yang dicetak agar posisinya tetap.
Biasanya dibuat dari karton atau stiker yang ditempelkan di atas kaca meja cetak.

2.    Proses pengerjaan
Setelah semua alat dan bahan siap, kamu dapat mulai membuat karya. Berikut ini langkah-langkahnya:
a.    Buatlah gambar yang akan kamu gunakan sebagai panduan sablon pada kertas kalkir. Pertama-tama buatlah gambar dengan satu warna. Gambar bisa juga diperoleh dari internet, kemudian difoto kopi ke kertas kalkir. Gambar ini disebut sebagai klise positif.
b.    Cucilah screen menggunakan air dan sabun, kemudian lap dengan kain spon. Setelah itu, screen dikeringkan dengan cara dijemur di sinar matahari. Pastikan bahwa screen benar-benar kering dan bersih sebelum digunakan.
c.    Buatlah klise negatif atau cetakan dengan proses afdruk. Siapkan obat afdruk dengan cara mencampur cairan merah dan putih (dosis sesuai petunjuk). Setelah obat tersebut tercampur dengan rata, tuangkan sedikit demi sedikit pada screet; dan ratakan setipis-tipisnya, kemudian screen tersebut dikeringkan dengan menggunakan kipas angin. Dalam proses ini, screen tidak boleh terkena sinar matahari. Untuk itu dianjurkan pengeringan di ruang tertutup.
d.    Siapkan papan terlebih dahulu. Taruh busa di atas papan, lalu taruh kain warna hitam di atas busa tersebut. Kemudian, ambil screen yang telah kamu siapkan sebelumnya dan taruh screen di atas kain berwarna hitam. Ambil gambar yang telah diedit dan tempel di atas screen. Sebelum gambar tersebut ditempelkan pada screen, kertas terlebih dahulu diolesi dengan minyak goreng. Hal ini dilakukan agar kertas pada gambar akan tembus sinar. Setelah itu, taruh kaca di atas screen.
e.    Sinari screen dengan sinar matahari. Untuk penyinaran ini diperlukan waktu antara 3 sampai 5 detik. Jika terlalu lama dalam penyinaran, pembuatan film screen akan gagal. Setelah disinari, screen tersebut harus dicuci untuk membersihkan berkas-berkas obat. Dalam pencucian ini, gunakanlah alat penyemprot untuk membersihkan obat yang tersisa di sela-sela gambar yang terdapat pada screen.   
f.    Ambil screen, kemudian kunci screen pada meja berkaca, lalu siapkan alat-alat untuk mewarnai. Campur cat dengan air. Setelah itu, taruh kain yang akan disablon di atas meja berkaca. Tuang cat pada screen secukupnya, kemudian ratakan menggunakan rakel. Jadilah hasil sablonan.
g.    Basahi screen dengan air lalu tuang obat pencuci screen pada screen. Gosok dengan menggunakan kain spon, lalu bilas dan keringkan dengan dijemur di sinar matahari.
C.    Pameran Karya Seni Rupa
1.    Persiapan Pameran
Langkah awal persiapan pameran adalah membentuk kepanitian pameran. Susunan panitia pameran antara lain sebagai berikut.
a.    Pembimbing    : bertugas membimbing peserta pameran agar  pameran dapat terlaksana dengan lancar.
b.    Ketua panitia    :    bertanggung jawab atas pelaksanaan pameran.
c.    Wakil ketua    :    membantu ketua untuk memperlancar   pelaksanaan  pameran.
d.    Sekretaris    :    bertugas menangani masalah administrsi   seperti surat-  menyurat, undangan,   pengumuman, petunjuk tertulis,   susunan   acara, dan daftar benda-benda yang dipamerkan.
e.    Bendahara    :    bertugas mengelola uang yang akan digunakan   dalam   pelaksanaan pameran.
f.    Seksi publikasi    :    bertugas mempublikasikan pelaksanaan   pameran.
g.    Seksi karya    :    bertugas menyeleksi karya yang akan   dipamerkan,
h.    Seksi display    :    bertugas memajang atau mengatur karya yang   akan   dipamerkan.
i.    Seksi penjaga    :    bertugas menjaga peiaksanaan pameran.
j.    Seksi acara    :    bertugas menyusun acara mulai dari persiapan   hingga pelaksanaan pameran.
k.    Seksi dokumentasi    :    bertugas mengabadikan peristiwa-peristiwa   saat pelaksanaan pameran.

2.    Tahap Pelaksanaan
Sebelum memulai acara, perhatikan penataan hasil karya agar pengunjung dapat menikmati pameran dengan nyaman. Berikut ini cara yang dilakukan saat pelaksanaan pameran sekolah.
•    Pembukaan acara oleh seksi acara.
•    Sambutan dari ketua panitia dan pihak yang mewakili sekolah seperti kepala sekolah atau guru kesenian.

3.    Evaluasi pameran
Evaluasi dilakukan di akhir acara. Tujuan dilakukan evaluasi yaitu untuk menilai tingkat keberhasilan atau kekurangan kegiatan pameran.

0 Responses to “Sejarah dan Perkembangan Seni Lukis Indonesia”

Poskan Komentar

Sponsored by Jobs