Kamis, 06 November 2014

Klasifikasi Kaktus Centong, Teratai, Bunga Mawar

KLASIFIKASI KAKTUS CENTONG

KLASIFIKASI KAKTUS CENTONG

Opuntia cochenillifera Nama umum
Indonesia:    Kaktus centong, tentong (Jawa)
Inggris:    Warm hand, nopal cactus
Opuntia cochenillifera
Kaktus Centong

Klasifikasi
Kingdom    :     Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    :     Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    :    Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi    :     Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas    :     Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas    :     Hamamelidae
Ordo    :     Caryophyllales
Famili    :     Cactaceae (suku kaktus-kaktusan)
Genus    :    Opuntia
Spesies    :     Opuntia cochenillifera

KLASIFIKASI TERATAI

KLASIFIKASI TERATAI

Klasifikasi
Regnum    : Plantae
Divisi        : Magnoliophyta
Kelas        : Magnoliopsida
Ordo        : Nymphaeales
Family        : Nymphaeceae
Genus        : Nymphaea
Spesies    : Nymphae alba

KLASIFIKASI BUNGA MAWAR




 
KLASIFIKASI BUNGA MAWAR

Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledonae
Ordo: Rosanales
Famili: Rosaceae
Genus: Rosa
Spesies: Rosa hybrida
Nama umum: mawar
Habitus: Semak; tinggi ± 2 m.

Kamis, 06 November 2014 by oyz a.k.a · 0

Klasifikasi Gajah, Kanguru dan Badak

KLASIFIKASI GAJAH

KLASIFIKASI GAJAH

Kerajaan              :               Animalia(Hewan)
Filum                   :               Chordata(mempunyai penyokong tubuh)
Upafilum             :               Vertebrata(Hewan bertulang belakang)
Kelas                   :               Mammal
Superordo           :               Afrotheria
Ordo                    :               Proboscidea
Famili                 :               Elephantidae

KLASIFIKASI KANGURU
KLASIFIKASI KANGURU

Kingdom/Kerajaan       : Animalia
Filum                            : Chordata (mempunyai penyokong tubuh dalam)
Kelas                           : Mammalia (mempunyai kelenjar susu)
Subkelas                      : Marsupialia (memiliki kantung)
Ordo                            : Diprotodontia (mempunyai dua gigi depan)
Famili                           : Macropodidae (Meloncat dengan kaki belakang)
Genus                           : Macropus
Species                         : Macropus rufus

KLASIFIKASI BADAK
KLASIFIKASI BADAK

Badak Jawa
Kingdom     :     Animalia
Phylum     :     Chordata
Sub phylum     :    Vertebrata
Super kelas     :    Gnatostomata
Kelas     :     Mammalia
Super ordo     :     Mesaxonia
Ordo     :     Perissodactyla
Super famili     :     Rhinocerotides
Famili     :     Rhinocerotidae
Genus     :    Rhinoceros Linnaeus, 1758
Spesies     :    Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822





by oyz a.k.a · 0

Dampak Penerapan Bioteknologi

Dampak Penerapan Bioteknologi

Bioteknologi sangat membantu dan bermanfaat bagi umat manusia. Sampai sat ini para ahli terus melakukan penelitian dalam bidang bioteknologi untuk mendapatkan produk dan jasa yang dibutuhkan. Namun disamping dampak positif ada pula dampak negatif yang tak dapat dielakkan.
1.    Dampak positif
-    Bioteknologi dapat mengatasi kekurangan bahan makanan (protein dan vitamin). Dengan bioteknologi, bahan makanan dapat diproduksi secara lebih cepat tanpa memerlukan ruangan yang luas (misal PST).
-    Membantu mengatasi masalah kesehatan dengan menyediakan obat-obatan untuk memberantas penyakit secara lebih murah.
-    Menyediakan berbagai senyawa organik seperti alkohol, asam asetat, gula, bahan makanan, protein, vitamin.
-    Menyediakan energi, misalnya biogas.
-    Memperbaiki lingkungan (misal bakteri pencerna limbah)
-    Mengatasi kesulitan memperoleh keturunan (bayi tabung)
2.    Dampak negatif
-    Dampak terhadap lingkungan
Dampak bioteknologi terhadap lingkungan adalah timbulnya dampak yang merugikan terhadap keanekaragaman hayati disebabkan oleh potensi terjadinya aliran gen ketanaman sekarabat atau kerabat dekat.
Pelepasan organisme transgenik (berubah secara genetik) kealam bebas dapat menimbulkan dampak berupa pencemaran biologi yang dapat lebih berbahaya daripada pencemaran kimia dan nuklir. Dengan keberadaan rekayasa genetika, perubahan genotipetidak terjadi secara alami sesuai dengan dinamika populasi, melainkan menurut kebutuhan pelaku bioteknologi itu. Perubahan drastis ini akan menimbulkan bahaya, bahkan kehancuran. “menciptakan” makhluk hidup yang seragam bertentangan dengan prinsipdi dalam biologi sendiri, yaitu keanekaragaman.
Contoh lainnya adalah pembuatan tempe atau kecap dalam skala besar dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Air limbah dan kulit kedelai dari proses pembuatan tempe, apabila dibiarkan tergenang dalam waktu cukup lama, limbah tersebut mengubah lingkungan menjadi tidak sehat. Jika air limbah itu dibiarkan mengalir ke dalam kolam-kolam ikan atau ke lahan-lahan persawahan, kehidupan ikan atau tanaman akan terganggu, bahkan bisa mati. Selain meracuni organisme yang hidup di dalam air, limbah ini juga menimbulkan bau yang tidak enak. Untukitu maka perlu ditangani secara baik agar tidak mencemari lingkungan.
-    Dampak terhadap kesehatan
Produk rekayasa di bidang kesehatan dapat juga menimbulkan masalah serius. Contohnya adalah penggunaan insulin hasil rekayasa telah menyebabkan 31 orang meninggal di Inggris. TomatFlavr Savrt diketahui mengandung gen resisten terhadap antibiotik.Susu sapi yang disuntik dengan hormon BGH disinyalir mengandung bahan kimia baru yang punya potensi berbahaya bagikesehatan manusia.
Selain itu, di bidang kesehatan manusia terdapat kemungkinan produk gen asing, seperti, gen cry dari bacillus thuringiensis maupun bacillus sphaeericus, dapat menimbulkan reaksi alergi pada tubuh mausia, perlu di cermati pula bahwa insersi (penyisipan) gen asing ke genom inang dapat menimbulkan interaksi antara gen asing dan inang produk bahan pertanian dan kimia yang menggunakan bioteknologi.
Tidak semua masyarakat menerima bioteknologi, karena menganggap melawan kodrat alam. Padahal sebenarnya para ahli hanya mencontoh peristiwa yang terjadi di alam. Bioteknologi yang menimbulkan kontroversi misalnya bayi tabung, pengklonan manusia dan transplantasi organ. Belum ada hukum yang mengikuti perkembangan bioteknologi, misalnya hukum tentang nenek yang mengandung cucunya. Ada kekhawatiran keterampilan merekayasa gen dimanfaatkan untuk kejahatan, misalnya mengubah gen bakteri untuk menjadi ganas dan digunakan untuk senjata biologi.
Munculnya organisme transgenik yang belum diketahui dampaknya. Organisme transgenik dikhawatirkan justru akan mempengaruhi keseimbangan alam, sulit dikendalikan atau dapat membahayakan keselamatan manusia.
-    Dampak di bidang sosial ekonomi
Beragam aplikasi rekayasa menunjukkan bahwa bioteknologi mengandung dampak ekonomi yang membawa pengaruh kepada kehidupan masyarakat. Produk bioteknologi dapat merugikan petani kecil. Penggunaan hormon pertumbuhan sapi (bovinegrowthhormone: BGH) dapat meningkatkan produksi susu sapi sampai 20% niscaya akan menggusur peternak kecil. Dengan demikian, bioteknologi dapat menimbulkan kesenjangan ekonomi.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, tembakau, cokelat,kopi, gula, kelapa, vanili, ginseng, dan opium akan dapat dihasilkan melalui modifikasi genetika tanaman lain, sehingga akan menyingkirkan tanaman aslinya. Dunia ketiga sebagai penghasil tanaman-tanaman tadi akan menderita kerugian besar.
Dampak bioteknologi di bidang sosial ekonomi yang lain adalah persaingan internasional dalam perdagangan dan pemasaran produk bioteknologi. Persaingan tersebut dapat menimbulkan ketidakadilan bagi negara berkembang karena belum memiliki teknologi yang maju. Kesenjangan teknologi yang sangat jauh tersebut disebabkan karena bioteknologi modern sangat mahal sehingga sulit dikembangkan oleh negara berkembang. Ketidakadilan, misalnya sangat terasa dalam produk pertanian transgenik yang sangat merugikan bagi agraris berkembang. Hak paten yang dimiliki produsen organisme transgenik juga semakin menambah dominasi negara maju.
-    Dampak terhadap etika
Menyisipkan gen makhluk hidup lain memiliki dampak etikayang serius. Menyisipkan gen mahkluk hidup lain yang tidak berkerabat dianggap melanggar hukum alam dan sulit diterima masyarakat. Mayoritas orang Amerika berpendapat bahwa pemindahan gen itu tidak etis, 90% menentang pemindahan gen manusia kehewan,75% menentang pemindahan gen hewan ke hewan lain.
Bahan pangan transgenik yang tidak berlabel juga membawa konsekuensi bagi penganut agama tertentu. Bagaimana hukumnya bagi penganut agama Islam, kalau gen babi disisipkan ke dalambuah semangka? Penerapan hak paten pada makhluk hidup hasil rekayasa merupakan pemberian hak pribadi atas makhluk hidup. Halitu bertentangan dengan banyak nilai-nilai budaya yang menghargainilai intrinsik makhluk hidup.
Seperti diketahui, kemampuan berfikir dan bernalar membuat manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan alam yang tersedia. Akan tetapi, sering pula teknologi yang kita hasilkan itu menimbulkan pengaruh sampingan yang menimbulkan kemudaratan. Dampak ilmu pengetahuan terhadap cara berpikir manusia dewasa ini sungguh dahsyat. Rasionalitas ilmu pengetahuan itu tidak hanya mengubah cara pandang tradisional kita, tetapi juga tehnologi yang terlalu etnosentris. Ilmu pengetahuan secara umum membantu manusia untuk memecahkan masalahnya, sehingga falsafah Tuhan Allahnya deisme (pandangan yang menegaskan bahwa hanya Tuhan yang dapat memecahkan problem manusia) berangsur-angsur hilang. Selanjutnya dikatakan bahwa manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi akan memperbesar kekuasaan kita atas alam dan masyarakat dan atas diri kita sendiri, sehingga akan muncul lagi bahaya dari teknologi yaitu semakin meningkatnya ilmu pengetahuan, teknologi dan bioteknologi justru akan melayani nafsu terhadap kekuasaan atau keinginan irrasional untuk mendominasi. Untuk mengurangi bahaya yang mungkin timbul akibat teknologi maupun bioteknologi maka sebagai manusia yang berTuhan, setiap kali seorang ilmuwan akan mengadakan penelitian ia harus sadar akan kedudukannya sebagai manusia di bumi ini.
Dalam mengembangkan bioteknologi, etika bioteknologi harus mendapat perhatian yang utama. Bagaimanapun juga, perkembangan dalam bioteknologi tidak terlepas dari tanggung jawab manusia sebagai perilaku sekaligus makhluk etis. Maka refleksi etis terhadap apa yang sedang dilakukan manusia menjadi sangat diperlukan. Manusia hendaknya dapat merefleksikan prinsip-prinsipnya sendiri dalam seluruh aktivitasnya, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bioetika, merupakan tuntutan etis yang berciri menampung segala pemikiran dan aliran tentang kehidupan, yang bersumber pada kala, budi, filsafat, agama, tradisi tanpa harus terikat dengan agama tertentu.

by oyz a.k.a · 0

Rabu, 05 November 2014

Biografi Singkat Presiden dan Wakil Presiden Pertama Indonesia

Ir. Soekarno

Présidén kahiji Republik Indonésia, Soekarno anu dawam digeroan Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Wétan, 6 Juni 1901 sarta maot di Jakarta, 21 Juni 1970. Bapana ngaranna Raden Soekemi Sosrodihardjo sarta indungna Ida Ayu Nyoman Rai. Sawaktu hirupna, anjeunna miboga tilu pamajikan sarta dikaruniai dalapan anak. Ti pamajikan Fatmawati miboga anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati sarta Guruh. Ti pamajikan Hartini miboga Taufan sarta Bayu, sedengkeun ti pamajikan Ratna Sari Dewi, wanoja turunan Jepang ngaranna pituin Naoko Nemoto miboga anak Kartika..
Mangsa leutik Soekarno ngan sawatara warsih hirup babarengan kolotna di Blitar. Sawaktu SD nepi ka tamat, anjeunna cicing di Surabaya, indekos di imah Haji Oemar Said Tokroaminoto, pulitisi kawakan pangadeg Syarikat Islam. Saterusna nuluykeun sakola di HBS (Hoogere Burger School). Waktu diajar di HBS éta, Soekarno geus menggembleng jiwa nasionalismenya. Saucul lulus HBS warsih 1920, pindah ka Bandung sarta melanjut ka THS (Technische Hoogeschool atawa sakola Tekhnik Luhur anu ayeuna jadi ITB). Manéhna junun ngahontal gelar "Ir" dina 25 Méi 1926.
Saterusna, anjeunna ngarumuskeun ajaran Marhaenisme sarta ngadegkeun PNI (Partéi Nasional lndonesia) dina 4 Juli 1927, jeung tujuan Indonésia Merdika. Balukarna, Walanda, ngasupkeunana ka panjara Sukamiskin, Bandung dina 29 Désémber 1929. Dalapan bulan saterusna anyar disidangkan. Dina pembelaannya dijudulan Indonésia Menggugat, anjeunna némbongkeun kemurtadan Walanda, bangsa anu ngaku leuwih maju éta.
Pembelaannya éta nyieun Walanda beuki ambek. Ku kituna dina Juli 1930, PNI ogé dibubarkan. Sanggeus leupas dina warsih 1931, Soekarno ngagabung jeung Partindo sarta sakaligus mingpinna. Balukarna, anjeunna ditéwak deui Walanda sarta dipiceun ka Ende, Flores, warsih 1933. Opat warsih saterusna dipindahkan ka Bengkulu.
Sanggeus ngaliwatan perjuangan anu cukup panjang, Bung Karno sarta Bung Hatta memproklamasikan kamerdikaan RI dina 17 Agustus 1945. Dina sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan alpukah ngeunaan dasar nagara anu disebutna Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno sarta Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kamerdikaan Indonésia. Dina sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih sacara aklamasi minangka Présidén Republik Indonésia anu kahiji.
Saméméhna, anjeunna ogé junun ngarumuskeun Pancasila anu saterusna jadi dasar (idéologi) Nagara Kahijian Republik Indonésia. Anjeunna narékahan mempersatukan nusantara. Komo Soekarno usaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, sarta Amérika Latin jeung Konférénsi Asia Afrika di Bandung dina 1955 anu saterusna ngembang jadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI ngababarkeun krisis pulitik hébat anu ngabalukarkeun tampikan MPR luhur pertanggungjawabannya. Sabalikna MPR mengangkat Soeharto minangka Pajabat Présidén. Kaséhatanana terus memburuk, anu dina poé Minggu, 21 Juni 1970 manéhna maot di RSPAD. Manéhna disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta sarta dimakamkan di Blitar, Jatim di deukeut astana ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pamaréntah menganugerahkannya minangka "Pahlawan Proklamasi".


MOHAMMAD HASTTA
 

Mohammad Hatta | nyaéta pahlawan Indonésia. Dilahirkan di Bukittinggi dina 12 Agustus 1902. Waktu lahir beliua dibéré ngaran Mohammad Ahtar sarta dawam digeroan Atta. Bapana ngaranna Mohammad Jamil sarta indungna ngaranna Siti Saleha anu asalna ti golongan padagang. Di wayah leutik, Bung Hatta bersekolah dasar di Bukittinggi anu awalna ditempuh sacara privat. Sanggeus éta anjeunna bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School), Padang. Kelas 5 nepi ka 7 Bung Hatta tempuh di MULO (Meer Iutgebreid Lager Inderwijs) nepi ka warsih 1917.
Bung Hatta pohara aktip dina ngalaksanakeun pancénna minangka bendahara di hiji perkumpulan nonoman Sumatera di Padang. Anu ngaranna, Jong Sumatranen Bond. Tapi, sajaba aktip dina pergerakan wewengkon, manéhna ogé mikiran penderitaan rahayat alatan pangjajahan.
Anjeunna kungsi menempuh élmu di Handles Hogeschool sarta Economische Hogeschool di Rotredam, Walanda. Di ditu, anjeunna meiliki kitu loba réncang. Di warsih 1926 Bung Hatta terpilih jadi pupuhu Indoneschie Vereniging (organisasi pulitik) nepi ka warsih 1930. Bung Hatta pohara mementingka kamerdikaan Indonésia, kalawan ngawanohkeun perjuangan Indonésia di Éropa. Di warsih 1926, manéhna ngawakilan Indonésia pikeun Kongrés Démokrasi Internasional di Perancis. Waktu éta, anjeunna junun meyakinkan kongrés pikeun mempergunakan kecap “Indonésia” sarta lain “Hindia Walanda”. Di Belgia, anjeunna ngécéskeun kaayaan rahayat Indonésia alatan Walanda.
Dina perjuangannya, Bung Hatta kungsi ngalaman pembuangan ka Digul sarta Banda Neira. Sanggeus Perang Pasifik peupeus anjeunna dipulangkeun ka Jawa. Pamaréntah Hindia Belanda-pun peupeus, sarta Jepang baris ngawasa. Indonésia dihandap pamaréntahan Jepang ogé diperlakukan telenges. Bung Hatta ngabacakeun hiji biantara ngeunaan cita-cita kamerdikaan Indonésia di lapang Ikada (Monas) dina 8 Désémber 1942. Jepang mengangkat Bung Hatta sarta 3 Inohong Nasional séjénna pikeun mingpin Potera (Puseur Tanaga Rahayat) anu didirikan ku Jepang. Anjeunna ogé mangrupa anggota BPUPKI sarta wawakil pupuhu PPKI anu duanana dijieun ku Jepang pikeun persiapan kamerdikaan Indonésia.
Dina tanggal 17 Agustus warsih 1945 Bung Hatta babarengan Soekarno ngabacakeun teks proklamasi kamerdikaan Indonésia di Pegangsaan Wétan 56. Siti Rahmiati nyaéta pamajikan Bung Hatta, yangdinikahi dina tanggal 18 Nopémber 1945 sarta nampa tilu urang anak. Konfrensi Méja Bundar, delegasi Indonésia dipupuhuan ku Bung Hatta sarta diayakeun di Den Haag dina warsih 1949. Anjeunna mangrupa perdana menteri dina awalna, tapi saprak warsih 1950 anjeunna mangrupa wawakil présidén kahiji Nagara Kahijian Republik Indonésia. Anjeunna ogé pohara aktip mikeun perhatian dina koperasi, ku kituna laun laun koperasi tumuwuh. Bung Hatta diangkat jadi Bapa Koperasi Nasional. Dina tanggal 15 Agustus 1972 Bung Hatta narima Béntang Republik Indonésia Kelas I di Karaton Merdika. Anjeunna maot dina poé Jum’at, 14 Maret 1980 alatan gering.

Rabu, 05 November 2014 by oyz a.k.a · 0

Selasa, 04 November 2014

Bioteknologi Konvensional dan Modern

 Bioteknologi Konvensional dan Modern

A.    PENGERTIAN BIOTEKNOLOGI
Bioteknologi adalah pemanfaatan prinsip-prinsip ilmiah yang menggunakan makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa guna kepentingan manusia. Ilmu-ilmu pendukung dalam bioteknologi meliputi mikrobiologi, biokimia, genetika, biologi sel, teknik kimia, dan enzimologi. Dalam bioteknologi biasanya digunakan mikroorganisme atau bagian-bagiannya untuk meningkatkan nilai tambah suatu bahan.

B.    BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL DAN MODERN
Bioteknologi dapat digolongkan menjadi bioteknologi konvensional/tradisional dan modern. Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan mikroorganisme untuk memproduksi alkohol, asam asetat, gula, atau bahan makanan, seperti tempe, tape, oncom, dan kecap.
Mikroorganisme dapat mengubah bahan pangan. Proses yang dibantu mikroorganisme, misalnya dengan fermentasi, hasilnya antara lain tempe, tape, kecap, dan sebagainya termasuk keju dan yoghurt. Proses tersebut dianggap sebagai bioteknologi masa lalu. Ciri khas yang tampak pada bioteknologi konvensional, yaitu adanya penggunaan makhluk hidup secara langsung dan belum tahu adanya penggunaan enzim.
1.    Pengolahan Bahan Makanan
a.    Pengolahan produk susu
Susu dapat diolah menjadi bentuk-bentuk baru, seperti yoghurt, keju, dan mentega.
1)    Yoghurt
Untuk membuat yoghurt, susu dipasteurisasi terlebih dahulu, selanjutnya sebagian besar lemak dibuang. Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan yoghurt, yaitu Lactobacillus bulgaricusdan Streptococcus thermophillus. Kedua bakteri tersebut ditambahkan pada susu dengan jumlah yang seimbang, selanjutnya disimpan selama ± 5 jam pada temperatur 45oC. Selama penyimpanan tersebut pH akan turun menjadi 4,0 sebagai akibat dari kegiatan bakteri asam laktat. Selanjutnya susu didinginkan dan dapat diberi cita rasa.
2)    Keju
Dalam pembuatan keju digunakan bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus dan Streptococcus. Bakteri tersebut berfungsi memfermentasikan laktosa dalam susu menjadi asam laktat.
Proses pembuatan keju diawali dengan pemanasan susu dengan suhu 90oC atau dipasteurisasi, kemudian didinginkan sampai 30oC. Selanjutnya bakteri asam laktat dicampurkan. Akibat dari kegiatan bakteri tersebut pH menurun dan susu terpisah menjadi cairan whey dan dadih padat, kemudian ditambahkan enzim renin dari lambung sapi muda untuk mengumpulkan dadih. Enzim renin dewasa ini telah digantikan dengan enzim buatan, yaitu klimosin.
Dadih yang terbentuk selanjutnya dipanaskan pada temperatur 32oC – 420oC dan ditambah garam, kemudian ditekan untuk membuang air dan disimpan agar matang. Adapun whey yang terbentuk diperas lalu digunakan untuk makanan sapi.
3)    Mentega
Pembuatan mentega menggunakan mikroorganisme Streptococcus lactis dan Lectonostoceremoris. Bakteri-bakteri tersebut membentuk proses pengasaman. Selanjutnya, susu diberi cita rasa tertentu dan lemak mentega dipisahkan. Kemudian lemak mentega diaduk untuk menghasilkan mentega yang siap dimakan.
b.    Produk makanan nonsusu
1)    Kecap
Dalam pembuatan kecap, jamur, Aspergillus oryzae dibiakkan pada kulit gandum terlebih dahulu. Jamur Aspergillus oryzae bersama-sama dengan bakteri asam laktat yang tumbuh pada kedelai yang telah dimasak menghancurkan campuran gandum.
Setelah proses fermentasi karbohidrat berlangsung cukup lama akhirnya akan dihasilkan produk kecap.
2)    Tempe
Tempe kadang-kadang dianggap sebagai bahan makanan masyarakat golongan menengah ke bawah, sehingga masyarakat merasa gengsi memasukkan tempe sebgai salah satu menu makanannya.
Akan tetapi, setelah diketahui manfaatnya bagi kesehatan, tempe mulai banyak dicari dan digemari masyarakat dalam maupun luar negeri. Jenis tempe sebenarnya sangat beragam, bergantung pada bahan dasarnya, namun yang paling luas penyebarannya adalah tempe kedelai.
Tempe mempunyai nilai gizi yang baik. Di samping itu tempe mempunyai beberapa khasiat, seperti dapat mencegah dan mengendalikan diare, mempercepat proses penyembuhan duodenitis, memperlancar pencernaan, dapat menurunkan kadar kolesterol, dapat mengurangi toksisitas, meningkatkan vitalitas, mencegah anemia, menghambat ketuaan, serta mampu menghambat resiko jantung koroner, penyakit gula, dan kanker. Untuk membuat tempe, selain diperlukan bahan dasar kedelai juga diperlukan ragi. Ragi merupakan kumpulan spora mikroorganisme, dalam hal ini kapang. Dalam proses pembuatan tempe paling sedikit diperlukan empat jenis kapang dari genus Rhizopus,
yaitu Rhyzopus oligosporus, Rhyzopus stolonifer, Rhyzopus arrhizus, dan Rhyzopus oryzae. Miselium dari kapang tersebut akan mengikat keping-keping biji kedelai dan memfermentasikannya menjadi produk tempe. Proses fermentasi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan kimia pada protein, lemak, dan karbohidrat. Perubahan tersebut meningkatkan kadar protein tempe sampai sembilan kali lipat.


3)    Tape
Tape dibuat dari bahan dasar ketela pohon dengan menggunakan sel-sel ragi. Ragi menghasilkan enzim yang dapat mengubah zat tepung menjadi produk yang berupa gula dan alkohol. Masyarakat kita membuat tape tersebut berdasarkan pengalaman.

2.    Bioteknologi Bidang Pertanian
a.    Penanaman secara hidroponik
Hidroponik berasal dari kata bahasa Yunani hydro yang berarti air dan ponos yang berarti bekerja. Jadi, hidroponik artinya pengerjaan air atau bekerja dengan air. Dalam praktiknya hidroponik dilakukan dengan berbagai metode, tergantung media yang digunakan.
Adapun metode yang digunakan dalam hidroponik, antara lain metode kultur air (menggunakan media air), metode kultur pasir (menggunakan media pasir), dan metode porus (menggunakan media kerikil, pecahan batu bata, dan lain-lain). Metode yang tergolong berhasil dan mudah diterapkan adalah metode pasir.
Pada umumnya orang bertanam dengan menggunakan tanah. Namun, dalam hidroponik tidak lagi digunakan tanah, hanya dibutuhkan air yang ditambah nutrien sebagai sumber makanan bagi tanaman. Apakah cukup dengan air dan nutrien? Bahan dasar yang dibutuhkan tanaman adalah air, mineral, cahaya, dan CO2.
Cahayatelah terpenuhi oleh cahaya matahari. Demikian pula CO2 sudah cukup melimpah di udara. Sementara itu kebutuhan air dan mineral dapat diberikan dengan sistem hidroponik, artinya keberadaan tanah sebenarnya bukanlah hal yang utama.
Beberapa keuntungan bercocok tanam dengan hidroponik, antara lain
tanaman dapat dibudidayakan di segala tempat; risiko kerusakan tanaman karena banjir, kurang air, dan erosi tidak ada; tidak perlu lahan yang terlalu luas; pertumbuhan tanaman lebih cepat; bebas dari hama; hasilnya berkualitas dan berkuantitas tinggi; hemat biaya perawatan.
Jenis tanaman yang telah banyak dihidroponikkan dari golongan tanaman hias antara lain Philodendron, Dracaena, Aglonema, dan Spatyphilum. Golongan sayuran yang dapat dihidroponikkan, antara lain tomat, paprika, mentimun, selada, sawi, kangkung, dan bayam. Adapun jenis tanaman buah yang dapat dihidroponikkan, antara lain jambu air, melon, kedondong bangkok, dan belimbing.
b.    Penanaman secara aeroponik
Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponos yang berarti daya. Jadi, aeroponik adalah pemberdayaan udara. Sebenarnya aeroponik merupakan tipe hidroponik (memberdayakan air), karena air yang berisi larutan unsur hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Akar tanaman yang ditanam menggantung akan menyerap larutan hara tersebut.
Prinsip dari aeroponik adalah sebagai berikut. Helaian styrofoam diberi lubang-lubang tanam dengan jarak 15 cm. Dengan menggunakan ganjal busa atau rockwool, anak semai sayuran ditancapkan pada lubang tanam. Akar tanaman akan menjuntai bebas ke bawah. Di bawah helaian styrofoam terdapat sprinkler (pengabut) yang memancarkan kabut larutan hara ke atas hingga mengenai akar.
3.    Bioteknologi Modern
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli telah mulai lagi mengembangkan bioteknologi dengan memanfaatkan prinsip-prinsip ilmiah melalui penelitian. Dalam bioteknologi modern orang berupaya dapat menghasilkan produk secara efektif dan efisien.
Dewasa ini, bioteknologi tidak hanya dimanfaatkan dalam industri makanan tetapi telah mencakup berbagai bidang, seperti rekayasa genetika, penanganan polusi, penciptaan sumber energi, dan sebagainya. Dengan adanya berbagai penelitian serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka bioteknologi makin besar manfaatnya untuk masa-masa yang akan datang. Beberapa penerapan bioteknologi modern sebagai berikut.
a.    Rekayasa genetika
Rekayasa genetika merupakan suatu cara memanipulasikan gen untuk menghasilkan makhluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan. Rekayasa genetika disebut juga pencangkokan gen atau rekombinasi DNA.
Dalam rekayasa genetika digunakan DNA untuk menggabungkan sifat makhluk hidup. Hal itu karena DNA dari setiap makhluk hidup mempunyai struktur yang sama, sehingga dapat direkomendasikan. Selanjutnya DNA tersebut akan mengatur sifatsifat makhluk hidup secara turun-temurun.
Untuk mengubah DNA sel dapat dilakukan melalui banyak cara, misalnya melalui transplantasi inti, fusi sel, teknologi plasmid, dan rekombinasi DNA.
1)    Transplantasi inti
Transplantasi inti adalah pemindahan inti dari suatu sel ke sel yang lain agar didapatkan individu baru dengan sifat sesuai dengan inti yang diterimanya. Transplantasi inti pernah dilakukan terhadap sel katak. Inti sel yang dipindahkan adalah inti dari sel-sel usus katak yang bersifat diploid. Inti sel tersebut dimasukkan ke dalam ovum tanpa inti, sehingga terbentuk ovum dengan inti diploid. Setelah diberi inti baru, ovum membelah secara mitosis berkali-kali sehingga terbentuklah morula yang berkembang menjadi blastula.
Blastula tersebut selanjutnya dipotong-potong menjadi banyak sel dan diambil intinya. Kemudian inti-inti tersebut dimasukkan ke dalam ovum tanpa inti yang lain. Pada akhirnya terbentuk ovum berinti diploid dalam jumlah banyak. Masing-masing ovum akan berkembang menjadi individu baru dengan sifat dan jenis kelamin yang sama.
2)    Fusi sel
Fusi sel adalah peleburan dua sel baik dari spesies yang sama maupun berbeda supaya terbentuk sel bastar atau hibridoma. Fusi sel diawali oleh pelebaran membran dua sel serta diikuti oleh peleburan sitoplasma (plasmogami) dan peleburan inti sel (kariogami).
Manfaat fusi sel, antara lain untuk pemetaan kromosom, membuat antibodi monoklonal, dan membentuk spesies baru. Di dalam fusi sel diperlukan adanya:
a)    sel sumber gen (sumber sifat ideal);
b)    sel wadah (sel yang mampu membelah cepat);
c)    fusigen (zat-zat yang mempercepat fusi sel).
3)    Teknologi plasmid
Plasmid adalah lingkaran DNA kecil yang terdapat di dalam sel bakteri atau ragi di luar kromosomnya. Sifat-sifat plasmid, antara lain:
a)    merupakan molekul DNA yang mengandung gen tertentu;
b)    dapat beraplikasi diri;
c)    dapat berpindah ke sel bakteri lain;
d)    sifat plasmid pada keturunan bakteri sama dengan plasmid induk.
Karena sifat-sifat tersebut di atas plasmid digunakan sebagai vektor atau pemindah gen ke dalam sel target.
4)    Rekombinasi DNA
Rekombinasi DNA adalah proses penggabungan DNA-DNA dari sumber yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menyambungkan gen yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, rekombinasi DNA disebut juga rekombinasi gen.
Rekombinasi DNA dapat dilakukan karena alasan-alasan sebagai berikut.
1)    Struktur DNA setiap spesies makhluk hidup sama.
2)    DNA dapat disambungkan
b.    Bioteknologi bidang kedokteran
Bioteknologi mempunyai peran penting dalam bidang kedokteran, misalnya dalam pembuatan antibodi monoklonal, vaksin, antibiotika dan hormon.
1)    Pembuatan antibodi monoklonal
Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diperoleh dari suatu sumber tunggal. Manfaat antibodi monoklonal, antara lain:
a)    untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin dalam urine wanita hamil;
b)    mengikat racun dan menonaktifkannya;
c)    mencegah penolakan tubuh terhadap hasil transplantasi jaringan lain.
2)    Pembuatan vaksin
Vaksin digunakan untuk mencegah serangan penyakit terhadap tubuh yang berasal dari mikroorganisme. Vaksin didapat dari virus dan bakteri yang telah dilemahkan atau racun yang diambil dari mikroorganisme tersebut.
3)    Pembuatan antibiotika
Antibiotika adalah suatu zat yang dihasilkan oleh organisme tertentu dan berfungsi untuk menghambat pertumbuhan organisme lain yang ada di sekitarnya. Antibiotika dapat diperoleh dari jamur atau bakteri yang diproses dengan cara tertentu.
Zat antibiotika telah mulai diproduksi secara besar-besaran pada Perang Dunia II oleh para ahli dari Amerika Serikat dan Inggris.
4)    Pembuatan hormon
Dengan rekayasa DNA, dewasa ini telah digunakan mikroorganisme untuk memproduksi hormon. Hormon-hormon yang telah diproduksi, misalnya insulin, hormon pertumbuhan, kortison, dan testosteron.

C.    Bioteknologi bidang pertanian
Dewasa ini perkembangan industri maju dengan pesat. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang tergeser, lebih-lebih di daerah sekitar perkotaan. Di sisi lain kebutuhan akan hasil pertanian harus ditingkatkan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Untuk mendukung hal tersebut, dewasa ini telah dikembangkan bioteknologi di bidang pertanian. Beberapa penerapan bioteknologi pertanian sebagai berikut.
1)    Pembuatan tumbuhan yang mampu mengikat nitrogen Nitrogen (N2) merupakan unsur esensial dari protein DNA dan RNA. Pada tumbuhan polong-polongan sering ditemukan nodul pada akarnya. Di dalam nodul tersebut terdapat bakteri Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen bebas dari udara, sehingga tumbuhan polong-polongan dapat mencukupi kebutuhan nitrogennya sendiri.
Dengan bioteknologi, para peneliti mencoba mengembangkan agar bakteri Rhizobium dapat hidup di dalam akar selain tumbuhan polong-polongan. Di samping, itu juga berupaya meningkatkan kemampuan bakteri dalam mengikat nitrogen dengan teknik rekombinasi gen.
Kedua upaya di atas dilakukan untuk mengurangi atau meniadakan penggunaan pupuk nitrogen yang dewasa ini banyak digunakan di lahan pertanian dan menimbulkan efek samping yang merugikan.
2)    Pembuatan tumbuhan tahan hama
Tanaman yang tahan hama dapat dibuat melalui rekayasa genetika dengan rekombinasi gen dan kultur sel. Contohnya, untuk mendapatkan tanaman kentang yang kebal penyakit maka diperlukan gen yang menentukan sifat kebal penyakit. Gen tersebut, kemudian disisipkan pada sel tanaman kentang. Sel tanaman kentang tersebut, kemudian ditumbuhkan menjadi tanaman kentang yang tahan penyakit. Selanjutnya tanaman kentang tersebut dapat diperbanyak dan disebarluaskan.

D.    Bioteknologi bidang peternakan
Dengan bioteknologi dapat dikembangkan produk-produk peternakan. Produk tersebut, misalnya berupa hormon pertumbuhan yang dapat merangsang pertumbuhan hewan ternak. Dengan rekayasa genetika dapat diciptakan hormon pertumbuhan hewan buatan atau BST (Bovin Somatotropin Hormon). Hormon tersebut direkayasa dari bakteri yang, jika diinfeksikan pada hewan dapat mendorong pertumbuhan dan menaikkan produksi susu sampai 20%.



E.    Bioteknologi bahan bakar masa depan
Kamu sudah mengetahui bahwa bahan bakar minyak termasuk sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Oleh karena itu, suatu saat akan habis. Hal itu merupakan tantangan bagi para ilmuwan untuk menemukan bahan bakar pengganti yang diproduksi melalui bioteknologi.
Saat ini telah ditemukan dua jenis bahan bakar yang diproduksi dari fermentasi limbah, yaitu gasbio (metana) dan gasahol (alkohol).
Alternatif bahan bakar masa depan untuk menggantikan minyak, antara lain adalah biogas dan gasohol. Biogas dibuat dalam fase anaerob dalam fermentasi limbah kotoran makhluk hidup. Pada fase anaerob akan dihasilkan gas metana yang dibakar dan digunakan untuk bahan bakar.
Di negara Cina, dan India terdapat beberapa kelompok masyarakat yang hidup di desa yang telah menerapkan teknologi fermenter gasbio untuk menghasilkan metana. Bahan baku teknologi fermenter tersebut adalah feses hewan, daun-daunan, kertas, dan lain-lain yang akan diuraikan oleh bakteri dalam fermenter.
Sedangkan teknologi gasohol telah dikembangkan oleh negara Brazil sejak harga minyak meningkat sekitar tahun 1970. Gasohol dihasilkan dari fermentasi kapang terhadap gula tebu yang melimpah. Gasohol bersifat murah, dapat diperbarui dan tidak menimbulkan polusi.

F.    Bioteknologi pengolahan limbah
Kaleng, kertas bekas, dan sisa makanan, sisa aktivitas pertanian atau industri merupakan bahan yang biasanya sudah tak dikehendaki oleh manusia. Bahan-bahan tersebut dinamakan limbah atau sampah. Keberadaan limbah sangat mengancam lingkungan.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk menanganinya. Penanganan sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan ditimbun, dibakar, atau didaur ulang. Di antara semua cara tersebut yang paling baik adalah dengan daur ulang.
Salah satu contoh proses daur ulang sampah yang telah diuji pada beberapa sampah tumbuhan adalah proses pirolisis. Proses pirolisis yaitu proses dekomposisi bahan-bahan sampah dengan suhu tinggi pada kondisi tanpa oksigen. Dengan cara ini sampah dapat diubah menjadi arang, gas (misal: metana) dan bahan anorganik.
Bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Kelebihan bahan bakar hasil proses ini adalah rendahnya kandungan sulfur, sehingga cukup mengurangi tingkat pencemaran. Bahan hasil perombakan zat-zat makroorganik (dari hewan, tumbuhan, manusia ataupun gabungannya) secara biologiskimiawi dengan bantuan mikroorganisme (misalnya bakteri, jamur) serta oleh hewan-hewan kecil disebut kompos.
Dalam pembuatan kompos, sangat diperlukan mikroorganisme. Jenis mikroorganisme yang diperlukan dalam pembuatan kompos bergantung pada bahan organik yang digunakan serta proses yang berlangsung (misalnya proses itu secara aerob atau anaerob).
Selama proses pengomposan terjadilah penguraian, misalnya selulosa, pembentukan asam organik terutama asam humat yang penting dalam pembuatan humus. Hasil pengomposan bermanfaat sebagai pupuk.
Bioteknologi dapat diterapkan dalam pengolahan limbah, misalnya menguraikan minyak, air limbah, dan plastik. Cara lain dalam mengatasi polusi minyak, yaitu dengan menggunakan pengemulsi yang menyebabkan minyak bercampur dengan air sehingga dapat dipecah oleh mikroba. Salah satu zat pengemulsi, yaitu polisakarida yang disebut emulsan, diproduksi oleh bakteri Acinetobacter calcoaceticus. Dengan bioteknologi, pengolahan limbah menjadi terkontrol dan efektif. Pengolahan limbah secara bioteknologi melibatkan kerja bakteri-bakteri aerob dan anaerob.

Selasa, 04 November 2014 by oyz a.k.a · 0

Makalah Kebutuhan Manusia Akan Cairan Dan Elektrolit


Kebutuhan Manusia Akan Cairan Dan Elektrolit
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Cairan dan elektrolit sangat penting  untuk memoertahankan keseimbangan atau homeostasis tubuh. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi fungsi fisiologis  tubuh. Sebab, cairan tubuh kita terdiri atas air yang mengandung partikel-partikel bahan organic dan anorganik yang vital untuk hidup. Elektrolit tubuh mengandung komponen-komponen kimiawi. Elektrolit tubuh ada yang bermuatan positif (kation) dan bermuatan negative (anion). Elektrolit sangat penting pada banyak fungsi tubuh, termasuk fungsi neuromuscular dan keseimbangan asam-basa. Pada fungsi neuromuscular, elektrolit memegang peranan penting terkait dengan transmisi impuls saraf.
1.2    Rumusan Masalah
1.    Apa definisi dari kebutuhan cairan dan elektrolit?
2.    Sistem tubuh apa saja yang berperan dalam kebutuhan cairan dan elektrolit?
3.    Seperti apa cara perpindahan cairan tubuh, kebutuhan cairan tubuh bagi manusia, pengaturan volume cairan tubuh dan jenis cairan?
4.    Apa yang dimaksud kebutuhan dan pengaturan elektolit, jenis cairan elektrolit, keseimbangan asam-basa dan jenis asam basa?
5.    Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit?
6.    Apa saja masalah-masalah pada kebutuhan cairan dan elektrolit?
7.    Bagaimana proses dan tindakan keperawatan pada masalah kebutuhan cairan dan elektrolit?
1.3    Tujuan Penulisan
 Untuk mengetahui hal yang berhubungan dengan kebutuhan cairan dan elektrolit
 Untuk mengetahui faktor dan masalah-masalah pada kebutuhan cairan dan elektrolit
 Untuk mengetahui proses keperawatan pada masalah kebutuhan cairan dan elektrolit
1.4    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab I. Pendahuluan, berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan, sistematika penulisan, metode penulisan.
Bab II. Pembahasan, berisi pembahasan yang menjelaskan tentang kebutuhan aktivitas
Bab III. Penutup, berisi kesimpulan, dan saran.
1.5    Metode Penulisan
Metode  yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mencari, mengumpulkan, dan mempelajari materi-materi dari buku maupaun dari media informasi lainnya dalam hal ini yang berkaitan dengan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
Kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan dan elektrolit saling berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang terjadi dalam bentuk kelebihan atau kekurangan.

2.2 Sistem yang Berperan dalam Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
 Ginjal.
Merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur kebutuhan cairan dan elektrolit. Terlihat pada fungsi ginjal, yaitu sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur keseimbangan asam-basa darah dan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
Proses pengaturan kebutuhan keseimbangan air ini diawali oleh kemampuan bagian ginjal, seperti glomerulus dalam menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500 cc plasma yang mengalir melalui glomerulus, 10% nya disaring keluar. Cairan yang tersaring (filtrate glomerulus), kemudian mengalir melalui tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua bahan yang dibutuhkan. Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron dengan rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.
 Kulit.
Merupakan  bagian penting pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan panas. Proses ini diatur oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan mengendalikan arteriol kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokontriksi. Proses pelepasan panas dapat dilakukan dengan cara penguapan. Jumlah keringat yang dikeluarkan tergantung banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit. Proses pelepasan panas lainnya dapat dilakukan melalui cara pemancaran panas ke udara sekitar, konduksi (pengalihan panas ke benda yang disentuh), dan konveksi (pengaliran udara panas ke permukaan yang lebih dingin).
Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pengendalian saraf simpatis. Melalui kelenjar keringat suhu dapat diturunkan dengan jumlah air yang dapat dilepaskan, kurang lebih setengah liter sehari. Perangsangan kelenjar keringat yang dihasilkan dapat diperoleh melalui aktivitas otot, suhu lingkungan dan kondisi suhu tubuh yang panas.
 Paru.
Organ paru berperan mengeluarkan cairan dengan menghasilkan insensible water loss kurang lebih 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respons akibat perubahan upaya kemampuan bernapas.
 Gastrointestinal.
Merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan hilang dalam system ini sekitar 100-200 ml/hari. Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui system endokrin, seperti: system hormonal contohnya:
 ADH. Memiliki peran meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh. Hormone ini dibentuk oleh hipotalamus di hipofisis posterior, yang mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel.
 Aldosteron. Berfungsi sebagai absorpsi natrium yang disekresi oleh kelenjar adrenal di tubulus ginjal. Proses pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium, natrium dan system angiotensin rennin.
 Prostaglandin. Merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan yang berfunsi merespons radang, mengendalikan tekanan darah dan konsentrasi uterus, serta mengatur pergerakan gastrointestul. Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.
 Glukokortikoid. Berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang menyebabkan volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
 Mekanisme rasa haus. Diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan cara merangsang pelepasan rennin yang dapat menimbulkan produksi angiostensin II sehingga merangsang hipotalamus untuk rasa haus.

2.3 Cara Perpindahan Cairan Tubuh
 Difusi.
Merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas, atau zat padat secara bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel membrane. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit dan zat-zat lain terjadi melalui membrane kapiler yang permeable.kecepatan proses difusi bervariasi, bergantung pada factor ukuran molekul, konsentrasi cairan dan temperature cairan. Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat dibanding molekul kecil. Molekul kecil akan lebih mudah berpindah dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke larutan dengan konsentrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.
 Osmosis.
Proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membrane semipermeabel biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Solute adalah zat pelarut, sedang solven adalah larutannya. Air merupakan solven, sedang garam adalah solute. Proses osmosis penting dalam mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intra.
Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan nol. Natrium dalam NaCl berperan penting mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila terdapat tiga jenis larutan garam dengan kepekatan berbeda dan didalamnya dimasukkan sel darah merah, maka larutan yang mempunyai kepekatan yang sama akan seimbang dan berdifusi. Larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonic karena larutan NaCl mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam system vascular. Larutan isotonic merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang dicampur. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan lebih rendah dibanding larutan intrasel. Pada proses osmosis dapat terjadi perpindahan dari larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang kepekatannya lebih tinggi melalui membrane semipermeabel, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedang larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya.


 Transport aktif.
Merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini terutama penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel. Proses pengaturan cairan dapat dipengaruhi oleh dua factor, yaitu:
 Tekanan cairan. Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotic juga menggunakan tekanan osmotic, yang merupakan kemampuan pastikel pelarut untuk menarik larutan melalui membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai konsentrasi lebih pekat molekulnya tidak dapat bergabung (larutan disebut koloid). Sedangkan larutan yang mempunyai kepekatan sama dan dapat bergabung (disebut kristaloid). Contoh larutan kristaloid adalah larutan garam, tetapi dapat menjadi koloid apabila protein bercampur dengan plasma. Secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeable tidak terjadi. Prinsip tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya, larutan yang sering digunakan dalam pemberian infuse intravena bersifat isotonic karena mempunyai konsentrasi sama dengan plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke dalam intrasel. Larutan intravena bersifat hipotonik, yaitu larutan yang konsentrasinya kurang pekat dibanding konsentrasi plasma darah. Tekanan osmotic plasma akan lebih besar dibanding tekanan tekanan osmotic cairan interstisial karena konsentrasi protein dalam plasma dan molekul protein lebih besar dibanding cairan interstisial, sehingga membentuk larutan koloid dan sulit menembud membrane semipermeabel. Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup. Hal ini penting guna mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
 Membran semipermeable. Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membran semipermeable terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.

2.4 Kebutuhan Cairan Tubuh Bagi Manusia
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh. Sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori persentase cairan tubuh berdasarkan umur adalah: bayi baru lahir 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan dan dewasa tua 45% dari total berat badan. Persentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada factor usia, lemak dalam tubuh dan jenis kelamin. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit dibanding pria karena pada wanita dewasa jumlah lemak dalam tubuh lebih banyak dibanding pada pria. Kebutuhan air berdasarkan umur dan berat badan:
Umur  Jumlah air dalam 24 jam Fungsi
ml/kg berat badan
3 hari 250-300 80-100
1 tahun   1150-1300 120-135
2 tahun 1350-1500 115-125
4 tahun 1600-1800 100-110
10 tahun 2000-2500 70-85
14 tahun 2200-2700 50-60
18 tahun 2200-2700 40-50
Dewasa 2400-2600 20-30

2.5 Pengaturan Volume Cairan Tubuh
Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan jumlah cairan yang keluar.
 Asupan cairan.
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah ± 2500 cc/hari. Asupan cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain. Pengaturan mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus dalam rangka mengatur keseimbangan cairan adalah hipotalamus. Apabila terjadi ketidakseimbangan volume cairan tubuh dimana asupan cairan kurang atau adanya pendarahan, maka curah jantung menurun, menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah.
 Pengeluaran cairan.
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi asupan cairan pada orang dewasa, dalam kondisi normal adalah ± 2300 cc. jumlah air yang paling banyak keluar dari eksresi ginjal (berupa urine), sebanyak ± 1500 cc/hari pada orang dewasa. Hali ini dihubungkan dengan banyaknya asupan melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan pengeluaran air melalui ginjal mudah diukur dan sering dilakukan dalam praktis klinis. Pengeluaran cairan dapat pula dilakukan melalui kulit (berupa keringat) dan saluran pencernaan (berupa feses). Pengeluaran cairan dapat pula dikategorikan sebagai pengeluaran cairan yang tidak dapat diukur karena, khususnya pada pasien luka bakar atau luka besar lainnya, jumlah pengeluaran cairan (melalui penguapan) meningkat sehigga sulit untuk diukur. Pada kasus ini, bila volume urine yang dikeluarkan kurang dari 500 cc/hari, diperlukan adanya perhatian khusus.
Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan memerlukan pengawasan asupan dan pengeluaran cairan secara khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan, demam, keringat dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan. Kondisi lain yang dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan adalah muntah secara terus menerus. Hasil-hasil pengeluaran cairan:
 Urine.
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan melalui vesika urinaria (kandung kemih). Proses ini merupakan proses pengeluaran cairan tubuh yang utama. Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus dan dalam tubulus ginjal untuk kemudoan diserap kembali ke dalam aliran darah. Hasil ekresi berupa urine. Jika terjadi penurunan volume dalam sirkulasi darah, receptor atrium jantung kiri dan kanan akan mengirimkan impuls ke otak, kemudian otak akan mengirimkan kembali ke ginjal dan memproduksi ADH sehingga mempengaruhi pengeluaran urine.
 Keringat.
Terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat banyak mengandung garam, urea, asam laktat dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan mempengaruhi kadar natrium dalam plasma.
 Feses.
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Pengeluaran air melalui feses merupakan pengeluaran cairan yang paling sedikit jumlahnya. Jika cairan yang keluar melalui feses jumlahnya berlebihan, maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata pengeluaran cairan melalui feses adalah 100 ml/hari.

2.6 Jenis Cairan
 Cairan nutrien.
Pasien yang istirahat ditempat tidur memerlukan sebanyak 450 kalori setiap harinya. Cairan nutrien (zat gizi) melalui intravena dapat memenuhi kalori ini dalam bentuk karbohidrat, nitrogen dan vitamin yang penting untuk metabolisme. Kalori dalam cairan nutrient dapat berkidar antara 200-1500/liter. Cairan nutrient terdiri atas:
 Karbohidrat dan air, contoh: dextrose (glukosa), levulose (fruktosa), invert sugar ( ½ dextrose dan ½ levulose).
 Asam amino, contoh: amigen, aminosol dan travamin.
 Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.
Blood Volume Expanders
Merupakan bagian dari jenis cairan yang berfungsi menigkatkan volume pembuluh darah setelah kehilangan darah atau plasma. Apabila keadaan darah sudah tidak sesuai, misalnya pasien dalam kondisi pendarahan berat, maka pemberian plasma akan mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien dengan luka bakar berat, sejumlah besar cairan hilang dari pembuluh darah di daerah luka. Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis blood volume expanders antara lain: human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotic, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume darah.

2.7 Kebutuhan dan Pengaturan Elektrolit
1. Kebutuhan elektrolit
Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrient dan sisa metabolism, seperti karbondioksida yang semuanya disebut dengan ion. Beberapa jenis garam dalam air akan dipecah dalam bentuk ion elektrolit. Contohnya, NaCl akan dipecah menjadi ion Na+ dan Cl-. Pacahan elektrolit tersebut merupakan ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Ion yang bermuatan negative disebut anion dan ion bermuatan positif disebut kation. Contoh kation ayitu natrium, kalium, kalsium dan magnesium. Sedangkan anion contohnya klorida, bikarbonat dan fosfat. Komposisi elektrolit dalam plasma adalah:
Natrium: 135-145 mEq/lt, Kalium: 3,5-5,3 mEq/lt, Kalsium: 4-5 mEq/lt, Magnesium: 1,5-2,5 mEq/lt, Klorida: 100-106 mEq/lt, Bikarbonat: 22-26 mEq/ltd an Fosfat: 2,5-4,5 mEq/lt.
Pengukuran elektrolit dalam satuan miliequivalen per liter cairan tubuh atau milligram per 100 ml (mg/100 ml). Equivalen tersebut merupakan kombinasi kekuatan zat kimia atau kation dan anion dalam molekul.
2. Pengaturan Elektrolit
 Pengaturan Keseimbangan Natrium.
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi mengatur osmolaritas dan volume cairan tubuh. Natrium paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel. Pengaturan konsentrasi cairan ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron. Aldosteron dihasilkan oleh korteks suprarenal dan berfungsi mempertahankan keseimbangankonsentrasi natrium dalam plasma dan prosesnya dibantu oleh ADH. ADH mengatur sejumlah air yang diserap kembali ke dalam ginjal dari tubulus renalis. Aldosteron juga mengatur keseimbangan jumlah natrium yang diserap kembali oleh darah. Natrium tidak hanya bergerak ke dalam atau ke luar tubuh, tetapi juga mengatur keeseimbangan cairan tubuh. Eksresi dari natrium dapat dilakukan melalui ginjal atau sebagian kecil melalui feses, keringat dan air mata.
 Pengaturan Keseimbangan Kalium.
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulsu ginjal dan sekresi aldosteron. Aldosteron juga berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalium dalam plasma (cairan ekstrasel).
System pengaturan keseimbangan kalium melalui 3 langkah yaitu: Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan produksi aldosteron, peningkatan jumlah aldosteron akan mempengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui ginjal dan peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel menurun.
 Pengaturan Keseimbangan Kalsium.
Kalsium dalam tubuh berfungsi membentuk tulang, menghantarkan impuls kontraksi otot, koagulasi (pembekuan) darah dan membantu beberapa enzim pancreas. Kalsium diekskresi melalui urine dan keringat. Konsentrasi kalsium dalam tubuh diatur oleh hormone paratiroid dalam reabsorpsi tulang. Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paratiroid akan merangsang pembentukan hormone paratiroid yang langsung meningkatkan jumlah kalsium dalam darah.
 Pengaturan Keseimbangan Klorida.
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi tidak dapat ditemukan pada cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium, yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan osmotic dalam darah. Hipokloremia merupakan siatu keadaan kekurangan kadar klorida dalam darah, sedangkan hiperkloremia merupakan kelebihan klor dalam darah. Normalnya, kadar klorida dalam darah pada orang dewasa adalah 95-108 mEq/lt.
 Pengaturan Keseimbangan Magnesium.
Magnesium merupakan kation dalam tubuh, merupakan yang terpenting kedua dalam cairan intrasel. Keseimbangannya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium. Hipmagnesium terjadi bila konsentrasi serum turun menjadi < 1,5 mEq/ltd dan hipermagnesium terjadi bila kadar magnesium serta seum meningkat menjadi > 2,5 mEq/lt.
 Pengaturan Keseimbangan Bikarbonat.
Bikarbonat merupakan elektrolit utama larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
 Pengaturan Keseimbangan Fosfat.
Fosfat (PO4) bersama-sama dengan kalsium berfungsi membentuk gigi dan tulang. Posfat diserap dari saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.

2.8 Jenis Cairan Elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap dengan bermacam-macam elektrolit. Cairan saline terdiri atas cairan isotonic, hipotonik dan hipertonik. Konsentrasi isotonic disebut juga normal saline yang banyak dipergunakan. Contoh cairan elektrolit:
 Cairan Ringer’s, terdiri atas: Na+, K+, Cl, Ca2+
 Cairan Ringer’s Laktat, terdiri atas: Na+, K+, Mg2+, Cl, Ca2+, HCO3
 Cairan Buffer’s, terdiri atas: Na+, K+, Mg2+, Cl, HCO3



2.9 Keseimbangan Asam dan Basa
Dalam aktivitasnya, sel tubuh memerlukan keseimbangan asam-basa. Keseimbangan asam-basa dapat diukur dengan pH (derajat keasaman). Dalam keadaan normal, pH cairan tubuh adalah 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa dapat dipertahankan melalui proses metabolism dengan system buffer pada seluruh cairan tubuh dan oleh pernapasan dengan system regulasi (pengaturan di ginjal). 3 macam system larutan buffer cairan tubuh adalah larutan bikarbonat, fosfat dan protein. System buffer itu sendiri terdiri atas natrium bikarbonat (NaHCO3), kalium bikarbonat (KHCO3) dan asam karbonat (H2CO3).
Pengaturan keseimbangan asam-basa dilakukan oleh paru melalui pengangkutan kelebihan CO2 dan H2CO2 dari darah yang dapat meningkatkan pH hingga kondisi standar (normal). Ventilasi dianggap memadai apabila suplai O2 seimbang dengan kebutuhan O2. Pembuangan melalui paru harus simbang dengan pembentukan CO2 agar ventilasi memadai. Ventilasi yang memadai dapat mempertahankan kadar pCO2 sebesar 40 mmHg.
Jika pembentukan CO2 metabolik meningkat, konsentrasinya dalam cairan ekstrasel juga meningkat. Sebaliknya, penurunan metabolism memperkecil konsentrasi CO2. Jika kecepatan ventilasi paru meningkat, kecepatan pengeluaran CO2 juga meningkat dan hal ini menurunkan jumlah CO2 yang berkumpul dalam cairan ekstrasel. Peningkatan dan penurunan ventilasi alveolus efeknya akan mempengaruhi pH cairan ekstrasel. Peningkatan pCO2 menurunkan pH, sebaliknya pCO2 meningkatkan pH darah. Perubahan ventilasi alveolus juga akan mengubah konsentrasi ion H+. sebaliknya konsentrasi ion H+ dapat mempengaruhi kecepatan ventilasi alveolus (umpan balik). Kadar pH yang rendah dan konsentrasi ion H+ yang itnggi disebut asidosis, sebaliknya pH yang tinggi dan konsentrasi ion H+ yang rendah disebut alkalosis.

2.10 Jenis Asam Basa
Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat disebabkan oleh henti jantung dan koma diabetika. Contoh cairan alkali adalah natrium (sodium) laktat dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan agram dari asam lemah yang dapat mengambil ion H+ dari cairan, sehingga mengurangi keasaman (asidosis). ion H+ diperoleh dari asam karbonat (H2CO3), yang mana terurai menjadi HCO3- (bikarbonat) dan H+. Selain system pernapasan, ginjal juga berperan untuk mempertahankan asam-basa yang sangat kompleks. Ginjal mengeluarkan ion hydrogen dan membentuk ion bikarbonat dengan pH darah normal. Jika pH plasma turun dan menjadi lebih asam, ion hydrogen dikeluarkan dan bikarbonat dibentuk kembali.

Masalah Keseimbangan Asam-Basa
 sidosis Respiratorik.
Merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh kegagalan system pernapasan dalam membuang karbondioksida dari cairan tubuh sehingga terjadi kerusakan pada pernapasan, peningkatan pCO2 arteri diatas 45 mmHg, dan penurunan pH hingga < 7,35 yang dapat disebabkan oleh adanya penyakit obstruksi, trauma kepala, perdarahan dan lain-lain.
 Asidosis Metabolik.
Merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadinya penumpukan asam yang ditandai dengan adanya penurunan pH hingga kurang dari 7,35 dan HCO3 kurang dari 22 mEq/lt.
 Alkalosis Respiratorik.
Merupakan suatu keadaan kehilangan CO2 dari paru dapat menimbulkan terjadinya pCO2 arteri < 35 mmHg dan pH > 7,45 akibat adanya hiperventilasi, kecemasan, emboli paru dan lain-lain.
 Alkalosis Metabolik.
Merupakan suatu keadaan kehilangan ion hidrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma > 26 mEq/ltd an pH arteri > 7,45 atau secara umum keadaan asam-basa dapat dilihat melalui tabel berikut:
HCO3 Plasma pH Plasma pCO2 Plasma Gangguan Asam-Basa
Meningkat Menurun Meningkat Asidosis Respiratorik
Menurun Menurun Menurun Asidosis Metabolik
Menurun Meningkat Menurun Alkalosis Respiratorik
Meningkat Meningkat Meningkat Alkalosis Metabolik



2.11 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
 Usia.
Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh serta aktivitas organ sehingga dapat mempengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit.
 Temperature.
Temperature ayng tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan melalui keringat cukup banyak, sehingga tubuh akan banyak kehilangan cairan.
 Diet.
Apabila kekurangan nutrient, tubuh akan memecah cadangan makanan yang tersimpan di dalamnya sehingga dalam tubuh terjadi pergerakan cairan dari interstisial ke interseluler, yang dapat berpengaruh pada jumlah pemenuhan kebutuhan cairan.
 Stress.
Stress dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit melalui proses peningkatan produksi ADH, karena proses ini dapat meningkatkan metabolism sehingga mengakibatkan terjadinya glikolisis otot yang dapat menimbulkan retensi sodium dan air.
 Sakit.
Pada keadaan sakit terdapat banyak sel yang rusak, sehingga untuk memperbaiki sel yang rusak tersebut dibutuhkan adanya proses pemenuhan kebutuhan cairan yang cukup. Keadaan sakit menimbulkan ketidakseimbangan system dalam tubuh, seperti ketidakseimbangan hormonal yang dapat mengganggu keseimbangan kebutuhan cairan.

2.12 Masalah-Masalah pada Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
Masalah Kebutuhan Cairan
 Hipovolume atau Dehidrasi.
Kekurangan cairan eksternal terjadi karena asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dengan mengosongkan cairan vaskuler. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan interstisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini terjadi pada pasien diare dan muntah. Ada tiga macam kekurangan volume cairan eksternal, yaitu:
 Dehidrasi isotonik, terjadi jika tubuh kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit secara seimbang.
 Dehidrasi hipertonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak air daripada elektrolit
 Dehidrasi hipitonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit daripada air
Kehilangan cairan ekstrasel secara berlebihan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipovolume) dan perubahan hematokrit. Pada keadaan dini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasel ke permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu yang lama, kadar urea, nitrogen dan kreatinin meningkat dan menyebabkan perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak delalu cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/natrium akan menyebabkan ekskresi atau pengeluaran urine secara berlebihan serta berkeringat dalam waktu lama dan terus-menerus. Hal ini dapat terjadi pada pasien yang mengalami gangguan hipotalamus, kelenjar gondok, ginjal diare, muntah secara terus-menerus, pemasangan drainase dan lain-lain.

Macam dehidrasi berdasarkan derajatnya:
 Dehidrasi berat, dengan ciri-ciri: pengeluaran/kehilangan cairan sebanyak 4-6 lt; serum natrium mencapai 159-166 mEq/lt; hipotensi; turgor kulit buruk; oliguria; nadi dan pernapadan meningkat serta kehilangan cairan mencapai > 10 % BB.
 Dehidrasi sedang, dengan ciri-ciri; kehilangan cairan 2-4 lt atau antara 5-10% BB; serum natrium mencapai 152-158 mEq/lt serta mata cekung.
 Dehidrasi ringan, dengan ciri-ciri; kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 lt.

 Hipervolume atau Overhidrasi.
Terdapat 2 manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume (peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normalnya cairan interstisial tidak terikat dengan air, tetapi elastic dan hanya terdapat diantara jaringan. Pitting edema merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan berbentuk cekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak, hal ini disebabkan oleh perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekan. Cairan dalam jaringan yang edema tidak digerakkan ke permukaan lain dengan jari. Nonpitting edema tidak menunjukkan tanda kelebihan cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan membekunya cairan pada permukaan jaringan. Kelebihan cairan vascular meningkatkan hidrostatik cairan dan akan menekan cairan ke permukaan interstisial.
Edema anasarka adalah edema yang terdapat di seluruh tubuh. Peningkatan tekanan hidrostatik yang sangat besar menekan sejumlah cairan hingga ke membrane kapiler paru sehingga menyebabkan edema paru dan dapat mengakibatkan kematian. Manifestasi edema paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk dan adanya suara napas ronnchi basah. Keadaan edema ini disebabkan oleh gagal jantung sehingga dapat mengakibatkan peningkatan penekanan pada kapiler darah paru dan perpindahan cairan ke jaringan paru. Perawat harus melakukan observasi secara cermat bila memberikan cairan intravena pada pasien yang mempunyai masalah jantung, sebab kelebihan cairan pada kapiler paru terutama pada anak/bayi dan orang tua dapat membahayakan. Pada anak, paru dan kapasitas vaskularnya kecil sehingga tidak mampu menampung cairan dalam jumlah besar. Pada pasien tua, elastisitas pembuluh darah menurun dan hanya mampu menampung sedikit cairan. Kelebihan cairan ekstrasel dihubungkan dengan gagal jantung, sirosis hati dan kelainan ginjal.
Pada kelebihan ekstrasel, gejala yang sering ditimbulkan adalah edema perifer (pitting edema), asites, kelopak mata membengkak, suara napas ronchi basah, penambahan berat badan secara tidak normal/sangat cepat dan nilai hematokrit pada umumnya normal, akan tetapi menurun bila kelebihan cairan bersifat akut.
Masalah Kebutuhan Elektrolit
 Hiponatremia.
Merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium dalam plasma sebanyak < 135 mEq/lt, rasa haus berlebihan, denyut nadi yang cepat, hipotensi konvulsi dan membrane mukosa kering. Hiponatremia disebabkan oleh hilangnya cairan tubuh secara berlebihan, misalya ketika tubuh mengalami diare yang berkepanjangan.
 Hipernatremia.
Merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi, ditandai dengan adanya mukosa kering, oliguri/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu badan naik serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/lt. Kondisi ini dapat disebabkan karena dehidrasi, diare, pemasukan air yang berlebihan sementara asupan garam sedikit.
 Hipokalemia.
Merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah. Hipokalemia dapat terjadi dengan sangat cepat. Kondisi ini sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan, juga ditandai dengan lemahnya denyut nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perut krmbung,lemah dan lunaknya otot tubuh, tidak beraturannya denyut jantung (aritmia), penurunan bising usus dan turunnya kadar kalim plasma hingga kurang dari 3,5 mEq/lt.
 Hiperkalemia.
Merupakan suatu keadaan diamna kadar kalium dalam darah tinggi, sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolic, pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena yang ditandai dengan adanya mual, hiperaktivitas system pencernaan, aritmia, kelemahan, sedikitnya jumlah urine dan diare, adanya kecemasan dan iritabilitas serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/lt.
 Hipokalsemia.
Merupakan kondisi kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kram otot dankram perut, kejang, bingung,kadar kalsium dalam plasma kurang dari 4,3 mEq/lt dan kesemutan pada jari dan sekitar mulut yang dapat disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar gondok serta kehilangan sejumlah kalsium karena sekresi intestinal.
 Hiperkalsemia.
Merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium darah yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan, ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma dan kadar kalsium dalam plasma mencapai lebih dari 4,3 mEq/lt.
 Hipomagnesia.
Merupakan kondisi kekurangan kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi, disoriensi dan konvulasi. Kadar magnesium dalam darah mencapai kurang dari 1,3 mEq/lt.
 Hipermagnesia.
Merupakan kondisi berlebihnya kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya koma, gangguan pernapasan dan kadar magnesium mencapai lebih dari 2,5 mEq/lt.
2.13 ASKEP pada Masalah Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
A. Pengkajian Keperawatan
 Riwayat Keperawatan.
Pengakajian keperawatan pada masalah kebutuhan cairan dan elektrolit meliputi jumlah asupan cairan yang dapat diukur melalui jumlah pemasukan secara oral, parenteral atau enteral. Jumlah pengeluaran dapat diukur melalui jumlah produksi urine, feses, muntah atau pengeluaran lainnya, status kehilangan/kelebihan cairan dan perubahan berat badan yang dapat menentukan tingkat dehidrasi.
 Faktor yang Berhubungan.
Meliputi factor-faktor yang memepengaruhi masalah kenutuhan cairan seperti sakit, diet, lingkungan, usia perkembangan dan penggunaan obat.
 Pengkajian Fisik.
Meliputi system yang berhubungan dengan masalah cairan dan elektrolit seperti system integument (status turgor kulit dan edema), system kardiovaskular (adanya distensi vena jugularis, tekanan darah dan bunyi jantung), system penglihatan (kondisi dan cairan mata), system neurologi (gangguan sensorik/motorik, status kesadaran dan adanya refleksi) dan system gastrointestinal (keadaan mukosa mulut, lidah dan bising usus).
 Pemeriksaan laboratorium atau diagnostik lainnya.
Dapat berupa pemeriksaan kadar elektrolit (natrium, kalium, klorida, berat jenis urine, analisis gas darah dan lain-lain).
B. Diagnosis Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan:
Pengeluraran urine secara berlebihan akibat penyakit diabetes mellitus atau lainnya; peingkatan permeabilitas kapiler dan hilangnya evaporasi pada pasien luka bakar atau meningkatnya kecepatan metabolism; pengeluaran cairan secara berlebihan; asupan cairan yang tidak adekuat serta pendarahan.
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan:
Penurunan mekanisme regulator akibat kelaiann pada ginjal; penurunan curah jantung akibat penyakit jantung; gangguan aliran balik vena akibat penyakit vascular perifer atau thrombus; retensi natrium dan air akibat terapi kostikosteroid serta tekanan osmotic koloid yang rendah.
C. Perencanaan Keperawatan
Tujuan: mempertahankan volume cairan dalam keadaan seimbang.
Rencana tindakan:
1. Monitor jumlah asupan dan pengeluaran cairan serta perubahan status keseimbangan cairan.
2. Pertahankan keseimbangan cairan. Bila kekurangan volume cairan lakukan:
 Rehidrasi oral atau parenteral sesuia dengan kebutuhan
 Monitor kadar elektrolit darah seperti urea nitrogen darah, urine, serum, osmolaritas, kreatinin, hematokrit dan Hb.
 Hilangkan factor penyebab kekurangan volume cairan, seperti muntah, dengan cara memberikan minum secara sedikit-sedikit tapi sering atau dengan memberikan teh.
Bila kelebihan volume cairan, lakukan:
 Pengurangan asupan garam
 Hilangkan factor penyebab kelebihan volume cairan dengan cara melihat kondidi penyakit pasien terlebih dahul. Apabila akibat bendungan aliran pembuluh darah, maka anjurkan pasien untuk istirahat dengan posisi telentang, posisi kaki ditinggikan, atau tinggikan ekstremitas yang mengalami edema diatas posisi jantung, kecuali ada kontra indikasi.
 Kurangi konstriksi pembuluh darah seperti pada penggunaan kaos kaki yang ketat.
3. Lakukan mobilisasi melalui pengaturan posisi
4. Anjurkan cara mempertahankan keseimbangan cairan.
D. Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatan
1. Pemberian cairan melalui infuse.
Merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan melalui intravena dengan abntuan infuse set, bertujuan memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makan.
Alat dan bahan: standar infuse, infuse set, cairan sesuai dengan kebutuhan pasien, jarum infuse/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran, pengalas, tourniquet/pembendung, kapas alcohol 70%, plester, gunting, kasa steril, betadineTM dan sarung tangan.
Prosedur kerja:
Cuci tangan; jelaskan prosedur yang akan dilakukan; hubungkan cairan dan infuse set dengan menusukkan ke dalam botol infuse (cairan); isi cairan ke dalam infuse set dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian dan buka penutup hingga selang terisi dan udaranya keluar; letakkan pengalas; lakukan pembendungan dengan tourniquet; gunakan sarung tangan; desinfeksi daerah yang akan ditusuk; lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas; cek apakah sudah mengenai vena (cirinya adalah darah keluar melalui jarum infuse/abocath); tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang infuse; buka tetesan; lakukan desinfeksi dengan betadineTM  dan tutup dengan kasa steril; beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester; lalu cuci tangan.

Cara Menghitung Tetesan Infuse
 Dewasa:
Tetesan/Menit =    Jumlah cairan yang masuk
         Lamanya infuse (jam) x 3 
Contoh: seorang pasien dewasa memerlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) infuse dalam waktu satu jam, maka tetesan permenit adalah:
Jumlah Tetesan/Menit =     1000  = 20 tetes/menit
                                            1 x 3
 Anak:
Tetesan/Menit =    Jumlah cairan yang masuk
            Lamanya infuse (jam)
Contoh: seorang pasien neonatus memerlukan rehidrasi dengan 250 ml infuse dalam waktu 2 jam, maka tetesan permenit adalah:
Jumlah Tetesan/Menit =      250  = 125 tetes mikro/menit
                                              2
2. Tranfusi Darah.
Merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang membutuhkan darah dengan cara memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan alat tranfusi set. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
Alat dan bahan: standar infuse, tranfusi set, NaCl 0,9 %, darah sesuai dengan kebutuhan pasien, jarum infuse/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran, pengalas, tourniquet/pembendung, kapas alcohol 70%, plester, gunting, kasa steril, betadineTM dan sarung tangan.

Prosedur kerja:
Cuci tangan; jelaskan prosedur yang akan dilakukan; hubungkan cairan NaCl 0,9% dan tranfusi set dengan cara menusukkan; isi cairan NaCl 0,9% ke dalam tranfusi set dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian dan buka penutup hingga selang terisi dan udaranya keluar; letakkan pengalas; lakukan pembendungan dengan tourniquet; gunakan sarung tangan; desinfeksi daerah yang akan ditusuk; lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas; cek apakah sudah mengenai vena (cirinya adalah darah keluar melalui jarim infuse/abocath); tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang tranfusi; buka tetesan; lakukan desinfeksi dengan betadineTM  dan tutup dengan kasa steril; beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester; setelah NaCl 0,9% masuk, kurang lebih 15 menit, ganti dengan darah yang sudah disiapkan; sebelum dimasukkan, terlebih dahulu cek warna darah, identitas pasien, jenis golongan darah dan tanggal kedaluwarsa; lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian infuse; lalu cuci tangan.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap gangguan kebutuhan cairan dam elektrolit secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan ditunjukkan oleh adanya keseimbangan antara jumlah asupan dan pengeluaran, nilai elektrolit dalam batas normal, berat badan sesuai dengan tinggi badan atau tidak ada penurunan, turgor kulit baik, tidak terjadi edema dan lain sebagainya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebutuhan cairan dan elektrolit merupakan suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Ginjal merupakan organ yang paling berperan, sebegai pengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hydrogen, CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.
3.2 Saran
Kebutuhan cairan tubuh tak hanya berasal dari konsumsi air putih saja, melainkan juga dari makanan dan minuman yang mengandung air. Meskipun begitu, akan jauh lebih baik bila kita memilih untuk mengkonsumsi air putih ketimbang jenis minuman lainnya yang banyak mengandung gula, kalori, kafein dan zat-zat lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
http://taharuddin.com/keseimbangan-cairan-dan-elektrolit.html diakses pada Senin, 26 November 2012 pukul 15.00 WIB.
http://www.kapukonline.com/2012/09/Prosedur-Pemenuhan-Kebutuhan-Cairan-dan-Elektrolit.html diakses pada Senin, 26 November 2012 pukul 15.00 WIB.
http://informasitips.com/kebutuhan-air-minum-cairan-untuk-manusia-per-hari diakses

by oyz a.k.a · 0

Penerapan Model Pembelajaran Induktif


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INDUKTIF
UNTUK MENINGKATAKAN PEMAHAMAN SISIWA
PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS IV DI SDN PAKEL III
KECAMATAN BARENG KABUPATEN JOMBANG

Oleh :
TOMY BUDI GURITNO,


 KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Induktif pada Mata Pelajaran Sains Kelas IV di Sekolah Dasar Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Belajar Mengajar di Kelas” disusun berdasarkan hasil uji coba I dan uji coba 2 yang dilaksanakan di SDN Pakel III Kecamatan Barengg Kabupaten Jombang.
Dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan dukungan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungannya.
Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran guna penyempurnaan karya tulis ini sangat diharapkan, dan semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan kepada kita semua. Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Jombang,  September 2010
Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                                                                                   ii
HALAMAN PUBLIKASI                                                                                          ii
KATA PENGANTAR                                                                                                 iii
DAFTAR ISI                                                                                                                iv
BAB I    :  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah                                                                       1
B.     Rumusan Masalah                                                                                 2
C.     Tujuan Penelitian                                                                                  3
D.    Manfaat Penelitian                                                                                4
E.     Pembatasan Penelitian                                                                          5
F.      Penjelasan Istilah                                                                                  5
BAB II   :  KAJIAN PUSTAKA                                                                           
A.    Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar                                                     6
B.     Model Induktif                                                                                     7
C.     Teori Belajar Konstruktivis yang Melandasi Model Induktif               8
D.    Model Induktif Menekankan pada Ketrampilan Berfikir Siswa          8
E.     Materi Bagian-bagian Tumbuhan                                                          9
F.      Kerangka Berpikir                                                                                10
BAB III :  METODE PENELITIAN                                                                    
A.    Jenis Penelitian                                                                                     12
B.     Subyek Penelitian                                                                                12
C.     Rancangan Penelitian                                                                           12
D.    Teknik Pengumpulan Data                                                                   14
E.     Teknik Analisa Data                                                                            15
BAB IV :  HASIL PENELITIAN
A.    Hasil Pembangunan Perangkat Pembelajaran                                      18
B.     Hasil Implementasi Perangkat Pembelajaran                                       19
1.      Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran                                             20
2.      Aktivitas Guru dalam Pembelajaran                                              20
3.        Keterlaksanaan Pembelajaran dengan Menerapkan Model Induktif                          21
4.      Pengelolaan Pembelajaran dalam Menerapkan Model Induktif                              21
5.      Respon Siswa Terhadap Kegiatan Pembelajaran dan Perangkat                             22
6.      Respon Guru Mitra                                                                        22
7.      Tes Hasil Belajar                                                                            23
BAB V   :  SIMPULAN DAN SARAN                                                                
A.    Simpulan                                                                                              25
B.     Saran                                                                                                    26
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Mempelajari sains, anak tidak hanya dituntut menguasai produk sains saja tapi juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah siswa SD. Hal ini juga sesuai dengan tujaun pengajaran sains di SD dalam Kurikulum 2004, yaitu :
1)      Menanamkan pengetahuan dan konsep-konsep sains yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains dan teknologi.
3)      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
4)      Ikut serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.
5)      Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
6)      Menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan (Diknas, 2004: 6).
Pembelajaran sains menurut Kurikulum 2004 juga harus mengikuti rambu-rambu berikut ini :
1.      Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran sains berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan apa yang akan dipelajari ke bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa.
2.      Pemberian pengalaman belajar secara langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
3.      Pembelajaran sains dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pengamatan, pengujian atau penelitian, diskusi, penggalian informasi mandiri melalui tugas baca, wawancara nara sumber, simulasi atau bermain peran, nyanyian, demonstrasi atau peragaan model.
Sesuai dengan Kurikulum 2004, model pembelajara yang dikembangkan dalam pembelajaran sains adalah model pembelajaran induktif yang diimplementasikan di kelas IV SD dengan materi pokok Bagian-bagian Tumbuhan.
Model induktif adalah strategi yang langsung dan membantu mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir. Model ini efektif untuk mendorong keikutsertaan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar (Eggen dan kauchak, 1996: 59).

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini diajukan rumusan masalah: Apakah penerapan model induktif dalam pembelajaran sains yang dipandu dengan perangkat pembelajaran dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar saind di SD? Untuk menjawab permasalahan penelitian tersebut, ada beberapa hal yang mendukung yaitu :
1.      Bagaimana aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sains di SD dengan menggunakan model induktif yang dipandu perangkat pembelajaran dengan materi pokok Bagian-bagian Tumbuhan?
2.      Apakah model pembelajaran induktif dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses siswa SD?
3.      Bagaimana hasil belajar siswa pada pembelajaran sains SD dengan model induktif yang dipandu perangkat pembelajaran dengan materi pokok Bagian-bagian Tumbuhan?
4.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model induktif dengan materi pokok Bagian-bagian Tumbuhan?
5.      Bagaimana keterlaksanaan proses belajar mengajar sains di SD dengan menggunakan model induktif yang dipandu perangkat pembelajaran dengan materi pokok Bagian-bagian Tumbuhan?
6.      Bagaimana respon guru mitra dan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model induktif yang dipandu dengan perangkat pembelajaran?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran sains SD model induktif dan untuk mengetahui penerapan model induktif dalam pembelajaran sains dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sains di SD. Tujuan tersebut dijabarkan secara jelas dalam tujuan khusus di bawah ini.
1.      Mengembangkan perangkat pembelajaran sains.
2.      Untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sains dengan menggunakan model induktif.
3.      Untuk mengetahui ketrampilan proses yang dikembangkan melalui pembelajaran sains dengan menerapkan model induktif.
4.      Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran sains dengan model induktif.
5.      Untuk mendeskripsikan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model induktif.
6.      Untuk mengetahui keterlaksanaan proses belajar mengajar sains di SDN Sentul 1 dengan menggunakan model induktif.

D.    Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat seperti berikut ini.
1.      Dihasilkan perangkat pembelajaran sains model induktif yang terdiri atas, Rencana Pembelajaran, Buku Siswa, Buku Kegiatan Siswa, Tes Keterampilan Proses, dan Tes Produk yang dapat digunakan langsung oleh guru untuk mengajar topik yang sama.
2.      Jika model induktif dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains, maka model ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran sains di SD.
3.      Memberi kemudahan bagi guru SD dalam mengajar sains dengan ketersediaan perangkat pembelajaran.

E.     Pembatasan Penelitian
Mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti dalam hal biaya, waktu, dan kemampuan, maka pelaksanaan penelitian ini dibatasi seperti berikut.
1.      Mata pelajaran yang diteliti adalah sains di SD kelas IV Semester 2 dalam pokok bahasan Bagian-Bagian Tumbuhan.
2.      Siswa yang dijadikan subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Sentul I Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang.
3.      Penelitian ini dilakukan pada Semester 2 tahun pelajaran 2004/2005, uji coba I dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan mulai tanggal 5-13 April, sedangkan uji coba 2 dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan mulai tanggal 2-10 Juni 2005.

F.     Penjelasan Istilah
Pembelajaran model induktif adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari fakta/data yang selanjutnya diproses menjadi konsep, prinsip.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Menurut Kurikulum 2004, dalam pembelajaran sains pemberian pengalaman langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah (Diknas, 2003).
Berikut ini akan dibahas beberapa keterampilan proses dasar yang akan dikembangkan dalam penelitian ini.
1.      Observasi
Observasi merupakan proses pengumpulan informasi dengan menggunakan semua indera atau menggunakan alat untuk membantu indera (Iskandar, 1996/1997).
2.      Mencatat Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi selanjutnya dicatat dalam tabel pengamatan. Pencatatan data diorganisasi dengan baik serta dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu agar mudah dibaca dan diinterpretasikan. Data yang diperoleh harus objektif sesuai dengan kenyataan dan akurat.
3.      Mengklasifikasikan
Mengklasifikasi adalah mengatur atau menyusun atau mendistribusikan obyek-obyek, kejadian atau informasi ke dalam golongan atau kelas dengan menggunakan cara tertentu atau sistem tertentu (Iskandar, 1996/1997).
4.      Prediksi
Memprediksi dapat diartikan sebagai pengantisipasian atau membuat perkiraan/ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau berdasarkan keterhubungan antara fakta, konsep, dan prinsip-prinsip dalam ilmu pengetahuan alam.
5.      Kesimpulan
Membuat kesimpulan dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memuluskan keadaan suatu obyek, atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep, dan prinsip yang diketahui.
6.      Mengkomunikasi
Pengkomunikasian di Sekolah Dasar berarti mencatat data yang didapat sebagai hasil eksperimen dalam bentuk yang difahami oleh orang-orang (Iskandar, 1996/1997: 57)

B.     Model Induktif
Model induktif merupakan salah satu model pembelajaran yang berdasarkan prinsip konstruktivisme, yaitu suatu pandangan yang menyatakan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri tentang segala sesuatu. Secara garis besar, prinsip konstruktivis adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara individu maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa sendiri untuk menalar, (3) siswa aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap serta sesuai dengan konsep ilmiah, (4) guru hanya sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus (Suparno, 1997: 49).

C.    Teori Belajar Konstruktivis yang Melandasi Model Induktif
Para ahli konstruktivis menyatakan bahwa belajar melibatkan konstruksi pengetahuan saat pengalaman baru diberi makna oleh pengetahuan terdahulu. Secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivis adalah :
1)      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara individu maupun sosial;
2)      pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk menalar;
3)      siswa aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah;
4)      guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus. (Suparno, 1997: 49)
Dengan demikian teori konstruktivis menekankan pada penyusunan secara aktif pengetahuan oleh siswa sendiri.

D.    Model Induktif Menekankan pada Keterampilan Berpikir Siswa
Salah satu tujuan digunakannya model induktif dalam pembelajaran adalah untuk mengembangkan keterampilan berpikir siswa. Dalam setiap pengajaran, guru menyarankan siswa mereka berpikir dengan cara seperti berikut:
1.      Guru dalam mengajar menekankan perbandingan, ini salah satu yang terpenting dan fundamental dalam keterampilan berpikir.
2.      Meminta siswa untuk mengidentifikasikan sifat-sifat objek secara verbal, menyatakan hukum atau aturan, menemukan pola dan generalisasi.
3.      Dalam setiap kasus, siswa dituntut untuk menggunakan informasi yang mereka ketahui dalam konteks realistis.

E.     Materi Bagian-bagian Tumbuhan
Tumbuhan mempunyai tiga bagian-bagian pokok yaitu akar, batang, daun dan bagian yang merupakan modifikasi dari bagian pokok misalnya kuncup dan bunga (Tjitrosoepomo, 2000: 4).
1.      Akar
Akar merupakan bagian pokok dari tumbuhan yang berada di dalam tanah. Pada umumnya akar mempunyai ciri-ciri antara lain tidak berbuku-buku, berwarna keputihan atau kekuningan, dan bentuknya meruncing. Bagian-bagian akar terdiri atas leher akar, batang akar, ujung akar, cabang akar, serabut akar, bulu akar dan tudung akar (Tjitrosoepomo, 2000: 91)
2.      Batang
Menurut Tjitrosoepomo (2000: 79) batang mempunyai bentuk yang bervariasi antara lain bulat, bersegi, dan pipih. Sedangkan permukaan batang ada yang licin, berusuk, beralur, bersayap, berambut, berduri, memperlihatkan bekas daun, memperlihatkan bekas daun penumpu, memperlihatkan banyak lenti sel, dan lepasnya kerak (kulit yang mati). Batang ada yang bercabang dan ada yang tidak bercabang.
3.      Daun
Daun merupakan bagian dari tumbuhan yang berperan dalam proses pembentukan makanan dan oksigen melalui proses fotosintesis.
Daun tumbuhan bervariasi dalam bentuk, ukuran, struktur dan warnanya, tetapi pada umumnya berbentuk tipis, lebar, dan berwarna hijau. Daun lengkap mempunyai bagian-bagian antara lain pelepah daun, tangkai daun, dan helai daun. Tetapi tidak semua daun mempunyai bagian-bagian tersebut. (Tjitrosoepomo, 2000: 11)
4.      Bunga
Bunga lengkap mempunyai bagian-bagian benang sari, putik, mahkota bunga, dan kelopak bunga. Benang sari merupakan alat perkembangbiakan jantan pada bunga yang tersusun atas tangkai sari dan kepala sari. Putik merupakan alat perkembangbiakan betina yang tersusun atas kepala putik, tangkai putik, dan ovarium yang menghasilkan ovum. Benang sari dan putik merupakan bagian utama dari bunga.

F.     Kerangka Berpikir
Belajar merupakan suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku dari pembelajar baik aktual maupun potensial. Sedangkan mengajar merupakan suatu proses pengaturan dan pengorganisasian lingkungan sekitar siswa yang dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa untuk belajar. Model induktif merupakan suatu model pembelajaran yang berdasarkan prinsip konstruktivisme, yaitu suatu pandangan yang menyatakan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri tentang segala sesuatu.
Penerapan model pembelajaran induktif dalam pelajaran sains, akan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran karena selama proses pembelajaran siswa dituntut untuk melakukan pengamatan terhadap contoh-contoh yang diberikan oleh guru untuk menemukan karakteristik dari suatu konsep, mencatat data hasil pengamatan, mendiskusikan hasil pengamatan sampai diperoleh suatu simpulan.


BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Dalam kegiatan penelitian ini dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran sains SD kelas IV dengan materi pokok Bagian-Bagian Tumbuhan yang berorientasi pada model induktif. Karena melakukan pengembangan perangkat pembelajaran, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian pengembangan.

B.     Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam kegiatan uji coba perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah siswa kelas IV SDN Sentul I Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang.

C.    Rancangan Penelitian
Pengembangan perangkat pembelajaran sains SD yang berorientasi model induktif dengan menggunakan proses pengembangan perangkat pembelajaran yang terdiri dari 4 tahap, yaitu : pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran. Tetapi dalam penelitian ini rancangan penelitian hanya sampai pada tahap pengembangan belum sampai ke penyebaran.

1.      Tahap Pendefinisian
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menentukan kebutuhan dari penyajian. Ada lima langkah, yaitu :
a.       Analisis Kebutuhan
Dalam Kurikulum 2004, pada materi pokok Bagian-Bagian Tumbuhan mengacu pada kompetensi dan hasil belajar.
b.      Analisis Siswa
Siswa kelas IV Pakel III Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, usianya berkisar antara 9-10 tahun yang berarti perkembangan kognitifnya berada dalam tahap operasional kongkret, sehingga dalam kegiatan pembelajaran guru harus menyediakan benda-benda kongkret yang dapat membantu anak memahami sesuatu yang abstrak.
c.       Analisis Tugas
Analisis tugas bertujuan untuk menentukan keterampilan atau pengetahuan terstruktur yang ingin diajarkan. Analisis juga meliputi kegiatan analisis struktur isi, analisis prosedural, analisis konsep, analisis pemrosesan informasi, dan perumusan tujuan pembelajaran.
2.      Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan prototip perangkat pembelajaran melalui beberapa tahap, antara lain :
a.       Penyusunan Tes
Dalam penelitian ini, penilaian yang dilakukan dengan menggunakan tes produk dan tes proses. Tes produk disusun dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep siswa dan tes proses dikembangkan untuk mengetahui penguasaan keterampilan proses siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran sains SD dengan menerapkan model pembelajaran induktif.
b.      Pemilihan Media
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang turut serta menentukan keberhasilan suatu proses belajar mengajar. Sumber belajar dipilih atau disiapkan dengan baik akan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan pembelajaran.
c.       Pemilihan format
Mencakup format untuk merancang isi dan sumber belajar, dan format pemilihan strategi pembelajaran.
3.      Tahap Pengembangan
Tahap pengembangan bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran dan instrumen yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari pakar.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik, yaitu:
1.      Pemberian tes
2.      Pemberian tes keterampilan proses
3.      Pengamatan kelas
4.      Pengisian angket
E.     Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Analisis data hasil pengamatan kelas
Data tentang aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran dianalisis dengan menghitung frekwensi dan persentase masing-masing aktivitas yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar yang dihitung dengan rumus :

Keterangan :
A   :  Aktivitas tertentu yang dilakukan oleh guru atau siswa
T    :  Keseluruhan aktivitas yang dilakukan guru atau siswa dalam pembelajaran berlangsung.
2.      Analisis data respon guru mitra dan siswa
Data respon guru mitra dan siswa terhadap pelaksanaan KBM dan perangkat pembelajaran dianalisis dengan menghitung frekwensi dan persentase masing-masing butir jawaban guru mitra dan siswa untuk tiap-tiap pertanyaan yang diajukan dalam angket.
3.      Hasil belajar siswa
Analisa data hasil belajar siswa dilakukan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa. Belajar siswa secara individu atau klasikal dikatakan tuntas bila proporsi jawaban benar siswa (p) lebih besar atau sama dengan 0,75 (Diknas, 2003).
a.       Proporsi individu
Proporsi yang diperoleh setiap individu dihitung dengan menggunakan rumus :
p individu =
b.      Proporsi Indikator
Proporsi indikator (p) yang menunjukkan suatu ketercapaian indikator dalam pembelajaran dihitung dengan menggunakan rumus (Diknas, 2003):
p indikator =
Keterangan :
B   :  Jumlah siswa yang menjawab benar
T    :  Jumlah seluruh siswa
c.       Ketuntasan secara klasikal
Ketuntasan secara klasikal dihitung dengan menggunakan rumus :
Ketuntasan Klasikal =

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Dalam uji coba 1 yang dilaksanakan di kelas IV SDN Pakel III Barengn Jombang, peneliti bertindak sebagai guru pada implementasi RP 1 dan RP 2, sedangkan RP 3 dilaksanakan oleh guru mitra. Sebelum pelaksanaan pembelajaran RP 1, siswa diberi pretes yang terdiri atas tes produk dan tes keterampilan proses (pengamatan, mencatat hasil pengamatan, membandingkan, dan menyimpulkan). Sedangkan setelah RP 3, siswa diberi postes (tes produk, tes keterampilan proses) serta angket respon siswa terhadap implementasi pembelajaran dengan menerapkan model induktif dan perangkat pembelajaran yang digunakan.
Dalam uji coba 2 yang dilaksanakan di kelas IV SDN Sentul I Tembelang Jombang, peneliti bertindak sebagai guru pada implementasi RP 1 dan RP 2, sedangkan RP 3 dilaksanakan oleh guru mitra. Sebelum pelaksanaan pembelajaran RP 1, siswa diberi pretes yang terdiri atas tes produk dan tes keterampilan proses (pengamatan, mencatat hasil pengamatan, membandingkan, dan menyimpulkan). Sedangkan setelah RP 3, siswa diberi postes (tes produk, tes keterampilan proses) serta angket respon siswa terhadap implementasi pembelajaran dengan menerapkan model induktif dan perangkat pembelajaran yang digunakan.

A.    Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini terdiri atas :
1.      Buku Siswa
Buku siswa dikembangkan sebagai sumber belajar dan panduan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun pembelajaran mandiri. Buku siswa berisi tentang materi pokok Bagian-bagian Tumbuhan yang di dalamnya terdapat pembahasan konsep, aktivitas siswa, olah pikir, simpulan, berpikir kritis, dan gambar.
2.      Buku Kegiatan Siswa
Buku kegiatan siswa digunakan sebagai panduan siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, tempat mencatat data hasil pengamatan, serta tempat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari buku siswa. Buku ini berisi aktivitas siswa, tempat mencatat data hasil aktivitas, pertanyaan beserta tempat menjawab pertanyaan, dan tempat mengerjakan olah pikir yang terdapat pada buku siswa.
3.      Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran yang dikembangkan digunakan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Terdiri atas 3 Rencana Pembelajaran yaitu RP 1 tentang Ciri-ciri Tumbuhan, RP 2 tentang Membandingkan bagian-bagian tumbuhan, dan RP 3 tentang Fungsi akar dan daun. Langkah-langkah pembelajaran dalam setiap RP mengacu pada fase-fase model pembelajaran induktif dalam Eggen dan Kauchak (1996).

4.      Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar dikembangkan sebagai alat untuk mengukur ketuntasan hasil belajar siswa. Tes hasil belajar terdiri dari tes produk dan tes keterampilan proses.
Tes keterampilan proses terdiri atas tes pengamatan, mencatat data hasil pengamatan, membandingkan dan merumuskan simpulan. Masing-masing tes terdiri atas komponen jenis kegiatan, alat dan bahan, prosedur, tempat, mencatat hasil kegiatan, dan rubrik penilaian.
Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar, menggunakan tingkat ketuntasan belajar yang ditetapkan oleh Diknas (2003) yakni ketuntasan baik individu maupun klasikal adalah lebih besar atau sama dengan 75%.

B.     Hasil Implementasi Perangkat Pembelajaran dengan Menggunakan Model Induktif
Implementasi perangkat pembelajaran dengan menggunakan model induktif terdiri atas simulasi uji coba 1, dan uji coba 2. Kegiatan uji coba 1 dan uji coba 2 masing-masing dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan dengan tujuan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran, hasil belajar siswa yang berupa hasil belajar produk dan keterampilan proses, keterlaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model induktif, pengelolaan pembelajaran dengan menerapkan model induktif oleh guru, hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pembelajaran, serta respon guru dan siswa terhadap kegiatan pembelajaran dan perangkat pembelajaran.
1.      Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model induktif diamati oleh dua orang pengamat pada uji coba 1 dan empat orang pengamat pada uji coba 2. Aktivitas siswa yang diamati meliputi mengamati contoh yang diberikan oleh guru, mencatat data hasil pengamatan, mendengarkan penjelasan guru, berdiskusi antar siswa, bertanya atau menjawab pertanyaan guru atau siswa, mengkomunikasikan hasil pengamatan, merumuskan simpulan, dan perilaku yang tidak relevan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
2.      Aktivitas Guru Dalam Pembelajaran
Pengamatan dilakukan oleh dua orang pengamat. Aktivitas guru yang diamati meliputi memotivasi siswa, menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan pokok bahasan, memberitahukan tujuan, menginformasikan garis besar kegiatan pembelajaran, memberi contoh, membimbing siswa melakukan pengamatan, membimbing diskusi, membimbing merumuskan simpulan, membimbing memberi contoh aplikasi konsep dan tindak lanjut.
Dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak menjelaskan konsep-konsep sains secara langsung pada siswa tapi guru aktif membimbing siswa dalam melakukan pengamatan terhadap contoh-contoh yang diberikan oleh guru, mencatat hasil pengamatan dan selanjutnya siswa dibimbing dalam diskusi untuk menemukan karakteristik konsep sampai memperoleh suatu simpulan. Kegiatan pembelajaran dalam kelas tidak berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa.
3.      Keterlaksanaan Pembelajaran Dengan Menerapkan Model Induktif
Keterlaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model induktif direkam dengan menggunakan Instrumen 1 yang diamati oleh dua orang pengamat. Pengamatan terhadap keterlaksanaan pembelajaran meliputi pelaksanaan fase-fase model pembelajaran induktif yang dilakukan guru selama kegiatan pembelajaran dalam kelas.
4.      Pengelolaan Pembelajaran Dalam Menerapkan Model Induktif
Pengelolaan pembelajaran sains yang dilakukan guru dengan menerapkan model induktif direkam dengan menggunakan Instrumen 3. pengamatan dilakukan oleh dua orang pengamat.
Pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru setiap fase pembelajaran model induktif pada uji coba 1 adalah sebagai berikut :
1)      Fase pengenalan pelajaran yang terdiri atas : memotivasi siswa, menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan pokok bahasan, memberitahukan tujuan, menginformasikan secara garis besar kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa selama proses pembelajaran.
2)      Fase terbuka yang terdiri atas: memberi contoh yang sesuai dengan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran, membimbing siswa melakukan observasi dengan pertanyaan terbuka.
3)      Fase konvergen yang terdiri atas: membimbing siswa dalam menyajikan pengamatan, membimbing diskusi.
4)      Fase clousure yang terdiri atas: membimbing siswa dalam merumuskan simpulan.
5)      Fase aplikasi yang terdiri atas: membimbing siswa agar dapat memberi contoh aplikasi dari konsep. 
5.      Respon Siswa Terhadap Kegiatan Pembelajaran dan Perangkat Pembelajaran
Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dan perangkat pembelajaran sains dengan menerapkan model induktif adalah baik. Hal ini terbukti pada uji coba 1 dan 2, respon siswa 100% menyatakan senang terhadap materi pelajaran yang diberikan guru, contoh yang diberikan guru, aktivitas belajar di kelas, cara guru mengajar, buku siswa, buku kegiatan siswa, serta suasana kepada pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan mengganggap cara mengajar guru merupakan hal yang baru. Hal ini terlihat pada angket yang telah diisi oleh siswa (lampiran 2).
6.      Respon Guru Mitra
Guru mitra menyatakan model pembelajaran induktif perlu dan layak dikembangkan untuk pokok bahasan lainnya melalu kegiatan pengembangan perangka dan pelatihan. Siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata ke bawah dan rata-rata ke atas memperoleh keuntungan atau manfaat dari perangkat ini dengan alasan dapat menunjang prestasi belajar siswa, dapat meringankan beban guru dalam kegiatan pembelajaran, anak akan mulai belajar dari yang sederhana dan kongkret, serta anak akan mengerti proses sains secara nyata. Guru mitra juga memperoleh kemudahan dari perangkat pembelajaran yang dikembangkan karena dinilai sangat lengkap untuk memandu kegiatan belajar mengajar di kelas.
Hambatan yang dialami selama kegiatan pembelajaran adalah belum terbiasanya guru mitra melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model induktif sehingga pada awal pertemuan RP 1, pembelajaran yang dilakukan oleh guru mitra masih kelihatan canggung serta ada beberapa langkah yang tidak dilaksanakan. Tapi pada pembelajaran RP berikutnya kegiatan pembelajaran sudah berlangsung dengan baik. Disamping itu suasana ruangan juga kurang memadai karena kurang luas sehingga anak tidak dapat leluasa bergerak. Kadang-kadang anak yang hiperaktif dan kemampuannya kurang mengganggu pelaksanaan kegiatan pembelajaran tetapi semuanya dapat dikendalikan oleh guru dengan baik. Penataan meja dan kursi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan pada saat pembelajaran juga mengalami kesulitan karena meja dan kursi siswa terlalu berat untuk dapat dipindahkan oleh siswa sendiri.
7.      Tes Hasil Belajar
a.      Tes Produk
Tes produk dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan materi ajar oleh siswa. Tes produk dilaksanakan dua kali yaitu pretes yang dilaksanakan sebelum pembelajaran RP 1 dan postes yang dilaksanakan setelah pembelajaran RP 3.
b.      Tes Keterampilan Proses
Hasil tes keterampilan proses diperoleh melalui pretes dan postes. Keterampilan proses yang diujikan meliputi keterampilan pengamatan, mencatat hasil pengamatan, membandingkan, dan membuat simpulan.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan
Dari hasil kegiatan uji coba perangkat pembelajaran dengan menerapkan model induktif dapat disimpulkan bahwa penerapan model induktif yang dipandu dengan perangkat pembelajaran dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sains di Sekolah Dasar. Hal ini dapat dilihat dari :
1.      Aktifitas guru dalam proses belajar mengajar sains di SD dengan menggunakan model induktif yang dominan adalah membimbing siswa dalam melakukan pengamatan, membimbing siswa berdiskusi dan membimbing siswa dalam merumuskan simpulan. Sedangkan aktivitas siswa yang dominan selama mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model induktif adalah mengamati contoh yang diberikan oleh guru, berdiskusi antar teman, dan mencatat hasil pengamatan.
2.      Penerapan model pembelajaran induktif dalam pembelajaran sains di SD dapat meningkatkan keterampilan proses siswa SD.
3.      Hasil belajar siswa pada pembelajaran sains SD dengan menerapkan model induktif mengalami peningkatan bila dilihat dari skor pretes dan postes baik hasil belajar produk maupun proses. Hal ini dapat dilihat dari ketuntatasan belajar siswa, pada saat pretes belum mencapai ketuntasan baik secara individual maupun klasikal, sedangkan saat postes sudah mencapai ketuntasan baik secara individu maupun klasikal.
4.      Guru dapat mengelola pembelajaran dengan baik pada saat menerapkan model induktif dalam pembelajaran sains.
5.      Proses belajar mengajar sains di SD dengan menerapkan model induktif dapat terlaksana secara baik.
6.      Guru mitra dan siswa merespon dengan baik pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model induktif yang dipandu dengan perangkat pembelajaran. Pada umumnya siswa merasa senang dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan ingin mengikuti pembelajaran sains dengan menggunakan model induktif pada pokok bahasan berikutnya. Guru mitra menyatakan bahwa perangkat pembelajaran yang digunakan sangat membantu dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dan menginginkan adanya pengembangan perangkat pembelajaran untuk pokok bahasan berikutnya.

B.     Saran
Berdasarkan hasil implementasi uji coba 1 dan uji coba 2, maka diberikan beberapa saran sebagai berikut :
1.      Salah satu kunci keberhasilan penerapan model induktif dalam pembelajaran sains adalah pemberian contoh yang sesuai, oleh karena itu pada saat guru menerapkan model induktif harus lebih selektif dalam memilih contoh.
2.      Bimbingan guru melalui pertanyaan sangat berperan dalam penerapan model induktif, sehingga guru dituntut trampil untuk bertanya.

3.      Mengingat perangkat pembelajaran sangat dibutuhkan oleh guru SD untuk memudahkan mereka dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, maka diperlukan suatu kegiatan pengembangan perangkat pembelajaran dan pelatihan yang melibatkan guru-guru SD.



DAFTAR PUSTAKA

Ardiana, L.I. 2004. “Pengembangan Silabus Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Makalah disampaikan pada Finalisasi Lokakarya Pengembangan Silabus KBK Universitas Negeri Surabaya.

Dahar, R.W. 1989. Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Depdikbud. 1994. Kurikulum IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.

Diknas. 2003. Kurikulum 2004. Jakarta: Diknas.

Eggen, D.D & Kauchak, D.P. 1996. Strategies for Teacher. Boston: Allyn and Bacon.

Iskandar, M.S. 1996/1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Bagian Proyek Pengembangan Guru Sekolah Dasar.

Sudjana, N. 1988. Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Tjitrosoepomo, G. 2000. Morfolofi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

by oyz a.k.a · 0

Sponsored by Jobs